top of page

Tips Mengolah Berita dari Medsos: Up-to-Date tapi Anti Hoaks

Amelia Rosary

25 Sep 20 | 15:08

Cek pakai Google Image dan keyword terkait, ya!

Tips Mengolah Berita dari Medsos: Up-to-Date tapi Anti Hoaks

Media sosial menjadi salah satu hal yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia zaman sekarang. Pada sesi pertama di hari keempat Indonesia Writers Festival (IWF) 2020, para penulis dan editor dari beberapa media online, yaitu Bimo Aprilianto dari IDN Times, Hairum Fellayati dari Yukepo, dan Nabila Inaya dari Hipwee berbincang mengenai bagaimana media dapat memanfaatkan isu-isu viral di media sosial.


Bagi seorang penulis atau editor di perusahaan media, mengikuti topik yang sedang trending di media sosial adalah sebuah hal yang wajib dilakukan untuk memproduksi berita-berita yang sarat akan informasi sekaligus hiburan. Nabila menanggapi hal tersebut dan berkata, "Pasti akan ada sesi di mana tim editorial duduk bersama dan mendiskusikan apa yang sedang trending di Twitter, misalnya."


"Ada juga tool Google Trend untuk mengetahui apa yang sedang hype. Nah, jadi bisa diketahui bagaimana keberadaan media sosial itu sangat memengaruhi proses pembuatan berita, ya. Kaitannya esensial sekali," ujar Bimo, sebagai penulis di kanal humor dan hiburan IDN Times. Baginya, mengikuti berita di media sosial merupakan pijakan awal untuk mengeksplorasi suatu berita secara lebih dalam. 


Namun, derasnya arus informasi tidak memungkinkan penulis untuk selalu menyuguhkan tulisan yang meliputi seluruh topik. Untuk itu, mereka dituntut agar dapat berlaku selektif dalam memilih berita yang akan diangkat. "Sebagai penulis, kita harus menyiapkan parameter tersendiri dulu: mana yang boleh diangkat, mana yang tidak. Cek dulu urgensinya. Konten ini buat apa, sih, untuk menghibur kah atau ngomporin?" terang Hairum. 


Selain itu, penulis juga harus lebih peka terhadap informasi yang tidak akurat. "Menjadi ujung tombak pemberitaan, kemampuan untuk menjamin kredibilitas berita itu krusial. Harus cross-check siapa yang pertama kali post sebuah berita. Misal ada foto yang kontroversial, kita track dulu pakai Google Image dan keyword terkait: yang pertama kali unduh akun terverifikasi kah atau malah akun ‘bodong’?" tegas Nabila. 

Tiap penulis, menurut Hairum, seharusnya bisa memanfaatkan momen saat meeting editorial. "Sekalinya mendapat berita baru, lakukan riset mandiri terlebih dahulu. Pastikan bahwa menjelang meeting, kita sudah bawa materi untuk dibicarakan. Pertimbangkan apakah ada nilai berfaedah yang bisa kita sampaikan pada masyarakat bila kita share berita tersebut?" ujarnya. 


Hal-hal seperti ini kini wajib diperhatikan. "Semua sekarang sudah bergeser. Dulu, sesuatu baru akan viral bila telah diberitakan oleh media. Sekarang, tidak harus diberitakan media pun, suatu isu bisa saja gone viral duluan melalui media sosial. Peran media kini bukan lagi memviralkan, tetapi semakin memviralkan. Kita memang menyasar hal yang sudah ramai di kalangan warganet agar kita bisa lebih dekat dengan para pembaca," tutup Bimo.


Rangkaian acara Indonesia Writers Festival (IWF) 2020 masih akan berlangsung hingga 26 September 2020. Masih ada banyak topik-topik menarik seputar dunia literasi yang akan dibahas dalam acara yang mengusung visi "empowering Indonesians through writing". Penonton dapat menyaksikan rangkaian acara Indonesia Writers Festival (IWF) 2020 secara gratis melalui platform YouTube dan Instagram IDN Times.

bottom of page