top of page

Catatan Kartini IDN Media: Tumbuh Dekat Lingkungan Lokalisasi Buka Mataku Tentang Budaya Patriarki

21 Apr 21 | 13:40

Amelia Rosary

Tokoh pasti akan berganti, tapi gagasan tak akan pernah mati

Catatan Kartini IDN Media: Tumbuh Dekat Lingkungan Lokalisasi Buka Mataku Tentang Budaya Patriarki

Tulisan ini dibuat oleh Novaya Siantita dari tim IDN Times untuk memperingati Hari Kartini


Hari Kartini, sebuah hari peringatan kesetaraan gender yang selalu berhasil mengingatkanku pada memori-memori saat aku masih bertumbuh. Besar di lingkungan yang cukup dekat dengan area lokalisasi, aku sudah lama mengenal istilah prostitusi. Aku menjadi saksi keseharian mereka, bagaimana perempuan-perempuan itu tak memiliki banyak pilihan untuk dapat menyambung hidup mereka yang tak seberapa beruntung. 


Perempuan-perempuan ini sering kali disiksa, dipukuli oleh suami-suami mereka, mungkin karena kondisi finansial yang tak stabil―entahlah. Banyak pihak yang mengetahui kekerasan ini, namun tak ada satu pun yang berniat menolong. “Bukan urusan kita,” kata mereka. Dari situ, aku berjanji pada diriku sendiri, hidup ini harus sebaik-baiknya dijalani. Penindasan atas nama patriarki tak boleh lagi terjadi. Ya, setidaknya kita harus mulai dari diri sendiri dengan menemukan apa yang menjadi kecintaan kita.


Terdorong oleh situasi di sekitarku, aku pun menemukan kecintaanku pada dunia literasi: membaca novel, menulis cerpen, apapun. Aku cukup aktif menulis sejak berada di bangku sekolah, jadi ketika aku menemukan lowongan kerja sebagai penulis setelah lulus kuliah, aku bulatkan tekadku untuk mencoba. Akhirnya, aku bekerja di media digital. Hidupku pun tentu dekat dengan teknologi, sebuah bidang yang didominasi oleh laki-laki. Sayangnya, di dunia yang maju dan modern ini, masih ada pihak yang konservatif, meyakini bahwa perempuan itu tak sepenuhnya mengerti teknologi.

Ah, stereotip yang digeneralisasi. Nyatanya, dulu ketika aku bilang bahwa aku bisa install Windows dan VPN sendiri tanpa perlu bantuan dari tim web developer, aku masih saja mendapat pujian, seolah itu adalah hal yang luar biasa untuk dilakukan oleh seorang perempuan. Mereka bilang, "Wah, buat ukuran perempuan kamu melek teknologi juga, ya!" atau “Ternyata ada perempuan yang tidak gaptek, ya!”


Menurutku, tantangan terbesar yang dihadapi perempuan di lingkungan kerja adalah stereotip dan tuntutan masyarakat yang, tentu saja, masih punya standar ganda soal bagaimana perempuan harus berperilaku. Klasik, tapi tak akan ada habisnya selama feminisme masih dianggap sebuah hal yang asing, bahkan negatif. Ketika perempuan memilih berkarier dan menunda pernikahan? Masyarakat protes. Ketika perempuan memilih jadi ibu rumah tangga dan tidak melanjutkan karier yang sudah dibangun dengan susah payah? Masyarakat juga akan tetap protes. Namun, apakah masyarakat akan sepeduli itu jika pilihan-pilihan ini dilakukan laki-laki? Aku rasa, masyarakat tidak akan seintens itu dalam berpendapat soal pilihan laki-laki jika dibandingkan dengan perempuan, karena mereka masih belum terbiasa melihat perempuan yang bisa dengan bebas memilih apa yang terbaik bagi hidup mereka, tanpa adanya campur tangan siapapun.


Pemberdayaan perempuan, selain bisa meningkatkan rasa self-worth, juga dapat memberikan pemahaman mengenai hak kita untuk berani mengambil keputusan, sekaligus untuk berkontribusi dalam perubahan sosial. Bukan tanpa makna, perempuan menuntut kesetaraan dan aktif bersuara karena ingin didengar, dilihat, dan membuat perubahan yang lebih baik untuk masa depan kita semua. Aku percaya bahwa memberdayakan itu perempuan penting bagi perkembangan sosial keluarga, komunitas, dan negara. Ketika perempuan menjalani kehidupan yang aman, cukup, dan produktif, tentu kita dapat mencapai potensi penuh kita.


Aku bersyukur punya orangtua yang mendukung tiap hal positif yang aku inginkan. Mereka tak pernah, barang sekali, melarangku untuk melakukan apapun dan tak pernah membatasi ruang gerakku hanya karena aku perempuan. Di mata mereka, perempuan dan laki-laki sama berharganya. Dididik oleh orang tua yang terbuka, aku secara pribadi meyakini bahwa perempuan harus ambisius, rendah hati, dan teguh dalam mempertahankan kepercayaan mereka. Hari Kartini mungkin hanya setahun sekali, namun hari tersebut bisa jadi pengingat bahwa kita tak akan pernah berhenti melawan patriarki. Tokoh pasti akan banyak silih berganti, tapi gagasan tak akan pernah mati. Yuk, bawa perubahan dengan #GerakBersama!


bottom of page