top of page

Timmy’s Story: Menjadi Ibu, Menjadi Manusia Baru

29 Sep 21 | 18:05

Saraya Adzani

Every mother should know their worth

Timmy’s Story: Menjadi Ibu, Menjadi Manusia Baru

Tulisan ini dibuat oleh Tisa Ajeng dari tim IDN Creative untuk program Timmy's Story


Menjadi ibu rumah tangga sekaligus ibu pekerja bukanlah perkara yang mudah untuk dilakukan. Rasanya, ini sudah menjadi rahasia umum, ya? Ditambah lagi, situasi pandemik juga menuntut ibu untuk dapat menyelesaikan pekerjaan kantor di rumah, mengurus buah hati, sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bayangkan betapa kita, sebagai ibu, harus pandai-pandai menyesuaikan jadwal kerja dengan kegiatan sebagai seorang istri dan ibu.


1. Menjadi seseorang yang baru

Karena masih harus bekerja dari rumah, aku harus jeli dalam membagi waktu antara pekerjaan kantor dan pekerjaan rumah. Pekerjaan kantor tak jarang diminta untuk selesai cepat, sementara sebagai ibu yang relatif baru, aku juga harus sabar untuk mengurus anakku, mengingat ia adalah tipe yang harus disusui langsung apabila hendak tidur. Jujur saja, masih belum terbayang bagaimana rasanya kalau nanti harus kembali kerja di kantor. Harus rutin pumping, segala macam. Pasti tantangan itu akan berubah lagi 180℃. 


Sejauh ini, aku sangat bersyukur karena IDN Media memberikan cuti melahirkan selama tiga bulan. Karena setelah lahiran, jujur saja, rasanya aku benar-benar menjadi seseorang yang baru. Semuanya serba baru! Tidak akan terbayang bagaimana rasanya ketika baru saja menyandang status baru, tapi aku diharuskan untuk langsung kerja. Jujur, jadi ibu baru di masa yang “biasa” saja sudah menantang, apalagi di masa pandemik seperti sekarang. 


2. Belum rela meninggalkan anak di rumah

Kalau dulu jadi ibu di masa sebelum pandemik, penat, bosan, ingin me time, tinggal pergi staycation atau sekadar keluar ke mall. Kalau masa pandemik seperti ini? Duh, mau keluar rumah saja takut, apalagi punya bayi newborn yang masih rentan sekali. Aku bahkan tidak pernah keluar rumah sejak hamil, karena aku benar-benar ingin memproteksi bayiku yang saat itu masih aku kandung. Hal ini juga memberi efek tersendiri padaku. Harus mengurus bayi newborn yang barru bisa menangis selama 24 jam. Wah, kalau tidak bisa handle mood, stres juga bisa kapan saja menyerang, ditambah stuck di rumah saja.


Namun, selalu ada hal baik di tiap peliknya permasalahan, seberapa berat pun. Mungkin terdengar klise, tapi bagian terbaik selama aku menjadi ibu di masa pandemik adalah kesempatanku untuk bisa memantau pertumbuhan anakku, setiap saat, setiap detik. Mulai dari bisa tengkurap sendiri, sampai momen MPASI. Walaupun kadang terbersit, “Repot, nih, kerja sambil mengurus anak. Susah konsentrasi.” Namun, kalau harus kerja di kantor dan meninggalkan anak di rumah sama pengasuh atau siapa pun, rasanya masih belum rela. Setuju, ngga, para ibu?


3. Every mother should know their worth

Walau repot, aku mulai bisa menikmati kerja di rumah sambil mengurus anak. Sejauh ini, atasanku tidak pernah mengeluhkan kinerjaku, terutama dengan status baruku sebagai seorang ibu. Aku masih mau menikmati WFH dengan baik, sambil terus menjaga anakku. Di sisi lain, aku tentu saja berharap agar pandemik ini dapat segera berakhir. Rasanya, ingin ajak anakku melihat dunia luar. Kasihan juga kalau harus tinggal di rumah terus.


Rasa legawa dan optimis ini tentu tak kudapatkan dari diri sendiri. Ada support system yang selalu ada buatku. Mulai dari suami, orang tua, bahkan sampai saudara aku sendiri. Sebagai ibu, aku juga ingin mengingatkan para ibu di luar sana untuk pandai-pandai mengatur emosi. Jangan sampai dilampiaskan ke anak kita, ya. Tak banyak saran yang bisa aku sampaikan selain stay strong and stay sane buat para ibu. Di masa seperti ini, ibu yang harus selalu kuat. Mengapa? Karena bagiku, tonggak utama kehangatan di dalam rumah adalah ibu. Every mother should know their worth.


bottom of page