top of page

Beri Inspirasi bagi Sineas Indonesia, Para Sutradara Sundance Berbagi Cerita Tentang Proses Kreatif Pembuatan Film Mereka

27 Aug 22 | 20:50

Felicia Yulianti

undefined

Beri Inspirasi bagi Sineas Indonesia, Para Sutradara Sundance Berbagi Cerita Tentang Proses Kreatif Pembuatan Film Mereka

Venue Sundance Film Festival: Asia 2022 di ASHTA District 8, Jakarta, Indonesia.


Sundance Film Festival: Asia 2022 menghadirkan kesempatan spesial bagi para film enthusiast dan filmmakers untuk bertemu dan berdiskusi langsung dengan para sutradara yang filmnya diputar di Sundance Film Festival. Tidak hanya itu, juga ada sesi diskusi bersama tim Sundance Institute yang ada di balik kurasi film-film yang ditayangkan di Sundance Film Festival: Asia 2022. Bagaimana keseruannya? 


1.Berbagi pengalaman dalam memproduksi film

Sesi Meet and Greet Day pertama bertajuk Bringing Your Artistic Vision to Life dihadiri Sutradara Leonor Will Never Die Martika Ramirez Escobar, Sutradara Maika Ham Tran, dan Sutradara Brian and Charles Jim Archer. Dengan dipandu oleh Senior Programmer Sundance Film Festival Heidi Zwicker, ketiga sutradara membagikan pengalaman mereka menjalani proses kreatif dalam pembuatan sebuah film, khususnya film mereka yang diputar selama Sundance Film Festival: Asia 2022 berlangsung.


Di awal sesi, ketiganya menceritakan dari mana inspirasi mereka dalam membuat film garapan masing-masing. Lalu, mereka juga menjelaskan pentingnya mewujudkan visi artistik masing-masing ke dalam film. Agar dapat mewujudkan film sesuai visi mereka, seluruh pihak yang terlibat dalam produksi film dipilih ketat. Mereka membagikan pengalaman bagaimana cara memilih pemain yang berdedikasi dan memiliki etos kerja yang baik, mencari kolaborator yang tepat untuk bekerja sama, serta pitching program yang mendukung visi mereka.


Salah satu tahapan produksi yang menarik dan penting untuk dibahas adalah proses pitching. Tahapan ini sangat penting dalam menyakinkan stakeholder lain untuk mendukung film tersebut, mulai dari co-production, pendanaan, hingga distribusi film. Salah satunya strategi yang bisa dilakukan adalah dengan memproduksi versi pendek dari film yang akan diproduksi sehingga orang lain bisa lebih mudah menangkap ide di balik film tersebut. Sutradara juga perlu memberikan sentuhan personalnya di dalam konsep film agar project-nya menarik perhatian stakeholders.


2.Lembaga yang fokus mencari karya unik dan orisinil

Acara dilanjutkan dengan sesi Meet and Greet Day kedua yang bertemakan Meet the Sundance Curators. Di sesi ini, perwakilan Sundance Institute yang terlibat dalam proses kurasi film-film yang ditayangkan di Sundance Film Festival maupun Sundance Film Festival: Asia 2022 menyapa para audiens yang hadir di ASHTA District 8, Jakarta. Dipandu oleh Head of Partnerships Sundance Institute Mary Sadeghy, hadir CEO Sundance Institute Joana Vicente dan Senior Programmer Sundance Film Festival Heidi Zwicker mewakili para kurator Sundance Institute. 


Selama sesi berlangsung, Joana dan Heidi menjelaskan sejarah singkat tentang Sundance Institute, perkembangan Sundance Institute serta beragam program pelatihan yang diadakan Sundance Institute untuk mendukung para sineas baru yang ingin mengembangkan ide-ide uniknya menjadi sebuah karya film.  Perhelatan tahunan Sundance Film Festival dan Sundance Film Festival: Asia merupakan salah satu upaya Sundance Institute untuk terus menemukan karya independen yang unik dan original dari berbagai genre. Selain itu, Sundance Institute secara aktif turut mengembangkan penonton film independen.


3.Pemutaran film pemenang Short Film Competition 
Rangkaian sesi Festival Chat dan Meet and Greet Day pun berakhir di hari ketiga. Acara berlanjut ke agenda berikutnya yaitu pemutaran film pemenang Short Film Competition 2022, yaitu Evacuation of Mama Emola karya Anggun Priambodo. Bertempat di FLIX Cinema, ASHTA District 8, Jakarta, para penonton antusias memenuhi studio untuk menonton film pendek karya anak bangsa ini. 


Evacuation of Mama Emola merupakan film pendek berdurasi 19 menit yang berkisah tentang seorang tahanan bernama Julius yang diizinkan cuti sementara dengan dikawal Nuri (25), seorang sipir perempuan, untuk mengevakuasi ibunya di kampung yang terancam bahaya tsunami. Perjalanan keduanya membuka mata mereka pada banyak hal terutama tentang orang-orang yang suka memanfaatkan situasi tragedi untuk kepentingan pribadi. 


4.Pemutaran dua film panjang Sundance Film Festival: Asia 2022
Rangkaian acara di hari ketiga ditutup dengan pemutaran dua film panjang Sundance Film Festival: Asia 2022, yaitu Midwives dan Brian and CharlesMidwives karya Snow Hnin Ei Hlaing merupakan film dokumenter asal Myanmar yang bercerita tentang dua orang bidan yang bekerja berdampingan di sebuah klinik darurat di Myanmar. Mereka dengan tulus bekerja memberikan layanan medis kepada para etnis Rohingya di Negara Bagian Rakhine dan menentang adanya diskriminasi terhadap ras.

 

Sementara itu, Brian And Charles merupakan film asal Inggris besutan sutradara Jim Archer. Film bergenre fiksi komedi dengan format dokumenter ini berkisah tentang pria bernama Brian yang mengalami depresi berat dan hidup terisolasi. Dihadapkan dengan situasi tersebut, Brian memutuskan membuat robot setinggi 2 meter yang ternyata memiliki kebiasaan mengkonsumsi kubis. Jim Archer pun berkesempatan untuk hadir langsung di Sundance Film Festival: Asia 2022 dan mengadakan diskusi singkat dengan para penonton.


5.Hari terakhir Sundance Film Festival: Asia 2022 ditutup dengan sesi film screening
Rangkaian acara Sundance Film Festival: Asia 2022 ditutup pada tanggal 28 Agustus 2022 dengan pemutaran tiga film panjang, yaitu Maika, Riotsville, USA, dan Blood


Menghadirkan berbagai rangkaian bagi para filmmakers dan film enthusiast sejak tanggal 25 Agustus 2022 lalu, Sundance Film Festival: Asia 2022 diharapkan dapat memberikan insight bagi para pecinta film dan sineas film agar dapat terus mengembangkan ide unik mereka menjadi sebuah film independen yang original. Selain itu, kehadiran Sundance Film Festival: Asia 2022 diharapkan bisa lebih mengenalkan karya-karya film independen ke masyarakat Indonesia pada umumnya.

bottom of page