Ambassador’s Talk di IDN Times: AS Jadi Penentu Selesai Tidaknya Konflik Palestina-Israel

Amelia Rosary Dewi | 8 June 2021

Ramainya konflik yang terjadi di Palestina mendorong IDN Times sebagai media digital multi-platform berita dan hiburan bagi Millennial & Gen Z di Indonesia untuk mengundang Duta Besar RI di Lebanon, Hajriyanto Thohari. Ia datang untuk menjelaskan peta konflik Israel dan Palestina, mengapa Amerika Serikat bakal terus mendukung Israel, siapa kunci perdamaian antara kedua pihak, dan di manakah ujung konflik yang memakan lebih banyak korban jiwa setiap harinya. Menarik, ya?

1. Konflik dengan snowball effect
Tidak dimungkiri bahwa konflik Palestina-Israel menciptakan snowball effect. Artinya, seiring dengan berjalannya waktu, konflik yang terjadi pun menjadi kian besar. Salah satu penyebab dari konflik yang sudah terjadi sejak puluhan tahun yang lalu ini, menurut Hajriyanto, adalah karena adanya akumulasi kekecewaan dan kegeraman yang terjadi pada lima tahun terakhir ini. Dimulai sejak 2016, ketika Israel menyatakan keinginannya atau ambisinya untuk menjadi Yerusalem sebagai ibu kota Israel. 

Pada 2017, Amerika Serikat mengabulkan permohonan Israel dengan diumumkannya Yerusalem sebagai ibu kota Israel oleh Presiden Donald Trump. “Di 2018, Amerika juga mengajukan proposal perdamaian ‘Peace to Prosperity: A Vision to Improve the Lives of the Palestinian and Israeli People’ atau yang lebih dikenal dengan ‘Deal of The Century’. Dalam pasal kedua dan kelimanya, proposal itu menegaskan posisi Kota Yerusalem. Intinya, ada akumulasi kekecewaan dan kegeraman. Apalagi ‘dijahili’ juga di Al-Quds saat bulan Ramadan, yang kemudian dilanjutkan dengan adanya gempuran kepada Gaza,” ucap Hajriyanto.

2. Kuatnya pengaruh AS
Hajriyanto, Duta Besar RI di Lebanon yang juga merupakan penulis buku ‘Anthropology of the Arabs: Coretan-coretan Etnografis dari Beirut’ ini, mengatakan, “Sejak beberapa waktu terakhir, Palestina memang sudah merasa ditinggalkan oleh negara-negara Arab. Terutama setelah Uni Emirat Arab, Bahrain, Maroko, dan Sudan pada 2020 menandatangani Kesepakatan Ibrahim (Abraham Accords) untuk memulihkan hubungan diplomatik dengan Israel. Kuatnya pengaruh AS di kawasan itu membuat negara-negara Arab berlomba-lomba dekat dengan AS. Pemimpin-pemimpin negara Arab akan dianggap hebat jika bisa masuk ke Gedung Putih.”

Selain itu, Palestina pun semakin merasa ditinggalkan karena konflik Palestina dan Israel sudah berlangsung lama, bahkan lebih dari 70 tahun. Oleh karenanya, wajar saja bila mereka merasa lelah. Berbagai upaya untuk mewujudkan perdamaian di antara dua bangsa yang bertikai itu tak pernah berhasil. Kemudian, ada pula faktor ekonomi. Datangnya bantuan AS yang bernilai puluhan triliun rupiah ke masing-masing negara yang mau berdamai dengan Israel juga membuat Palestina semakin tercampakkan.

3. AS jadi kunci utama
Dari penjabaran di atas, dapat kita logika bahwa AS memegang kunci utama dari segala pertikaian yang ada. Hal ini juga didukung oleh Hajriyanto. Katanya, “Saya melihat bahwa kemerdekaan Palestina ada di beberapa pundak, tetapi yang paling utama adalah AS. Amerika makin dominan dan menjadi penulis skenario tentang apa saja yang mungkin akan terjadi di Timur Tengah. Apalagi, AS adalah negara tunggal yang bertindak dengan kehendak tunggal. Sementara bangsa Arab adalah 23 negara yang secara politik semakin beragam, saling kompetitif satu sama lain, sehingga jarang bersatu.”

Perlu dicatat bahwa konflik Palestina dengan Israel sama sekali bukan terkait agama. Sebab, baik Islam maupun Yahudi di sana sama-sama menjadi korban, dan mereka juga sama-sama berjuang mempertahankan diri dari aneksasi Israel. “Bukan karena agama, ya. Sekarang, pertanyaan utamanya adalah: apabila keinginan-keinginan Israel diwujudkan oleh AS, mengapa AS tidak menciptakan produk yang selanjutnya, yang dapat menciptakan kedamaian dunia, yaitu kemerdekaan Palestina?” tutup Hajriyanto bernada tanya.