Berempati dan Suportif, Ini Cara Kami Suarakan Kultur Inklusif di Lingkungan Kerja

Amelia Rosary Dewi | 3 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Awaluddin Rachman dari tim People Operations untuk program Timmy's Story

Etika. Sebagian besar manusia pasti setuju dengan anggapan yang menyatakan bahwa etika dalam kehidupan merupakan satu dari sekian banyak hal yang mampu memengaruhi cara manusia berpikir dan bertindak. Tak heran, dalam berorganisasi, penerapan etika menjadi suatu hal yang tak boleh diabaikan. Dalam lingkup profesional, misalnya, salah satu kultur kerja yang merepresentasikan etika adalah budaya inklusif. Inklusif sendiri, menurut pandanganku, adalah usaha untuk menciptakan sebuah lingkungan yang terbuka dan mengikutsertakan semua orang meski dengan latar belakang yang berbeda. Itulah mengapa, merupakan suatu kebanggan bagiku untuk bekerja di IDN Media, sebuah perusahaan yang menjunjung tinggi nilai tersebut.

1. Internalisasi kultur inklusif

Beragamnya anggota perusahaan membuat kultur inklusif dalam lingkup profesional menjadi suatu hal yang harus direalisasikan. Oleh karenanya, memilih-milih kelompok dan/atau komunitas tertentu kini sudah menjadi suatu hal yang tak lagi relevan untuk diterapkan. Bagiku, untuk mempertahankan relevansi dan eksistensi di tengah persaingan bisnis zaman sekarang, perusahaan harus memberikan ruang untuk keberagaman yang ada. Salah satunya adalah dengan diciptakannya lingkungan kerja yang ramah dan anti diskriminasi.

Lingkungan kerja yang ramah dan anti diskriminasi tentu dapat membuat seseorang lebih fokus dalam bekerja, sehingga ia tak harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk memikirkan aspek lain yang dapat menghambat produktivitasnya. Sebagai upaya tanggung jawab perusahaan, IDN Media pun mempromosikan kultur inklusif tersebut melalui kampanye perusahaan, yang akhirnya juga menjadi tagline dari IDN Media sendiri, yaitu #DiversityIsBeautiful. Signifikansinya apa? Untuk menstimulasi internalisasi kultur pada tiap anggota perusahaan, yakni Timmy, tentu saja. Dengan kata lain, kultur inklusif itu bisa benar-benar tumbuh dalam pribadi masing-masing Timmy.

2. Pengalaman menembus barikade polisi demi mendukung sesama Timmy 

Tiga tahun yang lalu, aku dan beberapa Timmy lain sempat mengalami suatu hal yang cukup mendebarkan. Pada Mei 2018, lebih tepatnya, kami menembus barikade polisi. Bukan, bukan untuk berdemonstrasi, melainkan untuk menyampaikan empati kami pada Timmy lain yang sedang menunaikan tugas mereka di lapangan, meliput sebuah peristiwa Bom di Polrestabes Surabaya pada siang itu. Di tahun itu, jumlah Timmy di IDN Media tentu belum sebanyak yang sekarang. Hal ini malah semakin mendorongku untuk menolong kawan-kawan seperjuanganku di IDN Media, para jurnalis yang saat itu sedang tertahan di tengah kerumunan massa.

Situasi yang tak kondusif tentu saja membuat polisi semakin siaga. Ketika aku dan beberapa Timmy lain hendak menembus barikade mereka, terang saja mereka menahan kami. Tas hitam besar yang aku bawa saat itu juga dipertanyakan. Apa isinya, mau apa? Akhirnya, kami membuka tas berisi lusinan roti itu, sambil menjelaskan maksud kami. Tak lupa, kami juga menunjukkan ID pers kami. Singkat cerita, akhirnya kami diperbolehkan masuk. Di saat aku mulai melihat mereka di tengah kerumunan orang yang lain, sense of belonging-nya terasa begitu lekat. Menjadi berguna untuk mereka rasanya melegakan sekali, ternyata.

3. Niat baik terpancar dengan sendirinya

Ketika melakukan suatu niat baik dengan tulus, tanpa diupayakan sekalipun, orang lain tentu akan mampu merasakan niat baik tersebut dengan sendirinya. Sering mendapat feedback positif dari beberapa pihak eksternal, aku percaya bahwa kultur perusahaan yang inklusif dan positif rupanya mampu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih menyenangkan, tak banyak mengeluh akan tantangan yang sedang dihadapi di kantor. Oleh karenanya, ketika harus berhadapan dengan pihak eksternal di sebuah seminar, misalnya, kepositifan pun akan terpancar dengan sendirinya. 

Bekerja di sebuah perusahaan yang selalu mempromosikan kultur inklusivitas tentu akan membuat tiap Timmy semakin nyaman bekerja. Hanya dengan memberikan hal kecil nan sederhana, seperti salam, senyum, dan sapa pada orang di sekitar kita, kita sudah menerapkan kultur inklusif, lho. Dengan demikian, orang lain akan merasa diterima dan disambut dengan baik. Kalau dilihat dari kacamata perusahaan pada umumnya, produktivitas dan loyalitas karyawan juga akan meningkat secara drastis. Jadi, jangan lupa untuk pancarkan positive vibe ke orang-orang di sekitarmu, ya, sekecil apapun itu.