Catatan Kartini IDN Media: Liputan Bencana dan Densus 88 Antiteror saat Hamil Tua

Amelia Rosary Dewi | 22 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Febriana Sintasari dari tim IDN Times masih untuk memperingati Hari Kartini

Datangnya Hari Kartini mengingatkanku tentang betapa kuatnya kita sebagai perempuan. Keteguhan hati, perjuangan diri. Hujan dan badai kita tempuh untuk sampai pada titik yang kita tuju. Ya, menjadi perempuan berarti belajar menjadi manusia yang multitasking, menjalankan lebih dari satu aktivitas dalam waktu proses yang sama. Kita patut berbangga diri atas kemampuan ini, tentu saja. 

Multitasking. Istilah ini tidak hanya digunakan oleh mereka yang bekerja di kantor, namun juga oleh setiap orang yang melakukan berbagai pekerjaan secara bersamaan, termasuk seorang ibu. Sebagai seorang ibu, Hari Kartini membawaku pada masa-masa ketika aku sedang mengandung anak pertamaku. Bekerja sebagai seorang kontributor di sebuah media, penghasilan yang aku dapatkan berbanding lurus dengan jumlah artikel yang bisa aku setorkan. Karena tedorong untuk menyetorkan berita sebanyak mungkin, setiap hari aku turun ke lapangan seorang diri, menaiki sepeda motor kesayanganku, untuk liputan.

Saat itu, usia kandunganku sudah mencapai delapan bulan. Dengan perut besar, masih terekam jelas dalam memoriku saat aku sedang meliput bencana angin puting beliung. Tak berhenti di situ, aku juga sempat mencari informasi keberadaan daerah dan rumah penggerebekan Densus 88 Antiteror. Menunggu narasumber untuk bersedia diwawancara selama 8 jam juga pernah aku rasakan. Belum lagi saat anakku sudah lahir, aku harus semakin pandai membagi waktu antara mengurus anak, rumah tangga, dan liputan. Benar saja, menjadi perempuan memang harus siap berjuang dan aku sungguh berbangga akan hal itu. 

Perbedaan antara laki-laki dan perempuan, bagaimanapun, memang tidak terelakkan. Secara jasmaniah, perempuan mengalami haid, dapat mengandung, melahirkan, serta menyusui. Hal ini akhirnya mengkonstruksi pandangan masyarakat bahwa perempuan memiliki kodrat sebagai ibu, salah satu pihak yang berperan besar dalam keluarga. Dengan kata lain, aku mencoba menekankan bahwa kita boleh berbangga hati menjadi perempuan, tapi hal ini tak semestinya mengurangi rasa hormat kita pada laki-laki, sebagai pihak yang juga berperan besar dalam keluarga.

Sedikit saja yang bisa aku ungkapkan tentang Hari Kartini ini. Tak banyak, tapi semoga cukup menggambarkan perjuangan perempuan yang tak tanggung-tanggung. Selamat Hari Kartini, perempuan-perempuan Indonesia. Jiwa-jiwa nan tegar dan kuat, yang penuh optimisme akan tercapainya tujuan bersama.