Catatan Kartini IDN Media: Magang di Ibu Kota, Menjadi Jurnalis adalah Sesuatu yang Layak Aku Perjuangkan

Amelia Rosary Dewi | 20 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Masdalena Napitupulu dari tim IDN Times untuk menyambut Hari Kartini

Kalau kata Najwa Shihab, “Sebagai perempuan, sekadar membuat pilihan saja sudah menantang. Terkadang, ambisi yang kita pilih bertentangan dengan tradisi yang ada.” Benar saja, jurnalis merupakan pekerjaan yang sudah lama dicap sebagai pekerjaan maskulin, sesuatu yang lebih aman bila dilakukan oleh laki-laki. Namun, sebagai perempuan, aku memilih apa yang aku sukai dan menjadi jurnalis adalah pilihanku.

Sayangnya, apa yang telah mengakar pada sistem masyarakat kita mendorong beberapa orang di sekitarku untuk menyeletuk, “Mau apa jadi jurnalis? Perempuan lebih baik kerja di kantor saja, jadi admin atau semacamnya. Kerja jadi jurnalis itu melelahkan, lho.” Hal itu sudah lama kudengar, bahkan sebelum aku menjalani profesiku sebagai jurnalis. Mau bagaimana lagi? Akhirnya, aku anggap ujaran-ujaran itu sebagai penyemangat dalam menjalani kegemaranku dalam dunia jurnalistik. Sebelum menjadi News Reporter di IDN Times Hyperlocal Sumatra Utara, aku sudah terjun ke dunia fotografi, bahkan menjadi satu-satunya pemenang perempuan di beberapa lomba foto, termasuk Festival “Amazing Toba” saat berusia 17 tahun.

Keberhasilanku saat itu kian memantapkan hatiku untuk menentukan jurusan kuliah. Aku cukup beruntung karena orang tuaku memberikan kebebasan dalam setiap pilihan yang aku ambil. Saat menjadi mahasiswa, aku berkesempatan menjalani magang tiga bulan di IDN Times. Bersyukur bisa belajar dan menambah pengalaman di media millennial tersebut, apalagi aku memang sudah menggemari dunia fotografi dan kepenulisan sejak lama. Artinya, passion-ku bisa tersalurkan dalam hasil liputan yang aku kerjakan.

Sungguh, memilih magang di Jakarta adalah pengalaman hidup yang mengubahku menjadi pribadi yang lebih kuat dan mandiri. Bagaimana tidak? Itu adalah kali pertamaku menyinggahi Ibu Kota Indonesia! Tantangan dan risiko dalam profesi tentu saja menumbuhkan rasa takut, ragu, dan tak percaya diri. Namun, aku tahu aku harus mengalahkan segala kekhawatiran dan ketakutanku dengan terus belajar dan pantang menyerah. Ah, kamu tahu, ‘kan, rasanya jadi junior? Takut banget kalau berbuat salah, tapi aku tahu bahwa profesi yang aku jalani ini adalah sesuatu yang layak diperjuangkan.

Intinya, semua perempuan harus menjadi sosok yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan siapa pun yang ada di sekitarnya. Kita ini Kartini Masa Kini, perempuan-perempuan yang berani mengeksplorasi potensi diri, punya mimpi, serta mau mewujudkannya dengan berani. Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia, sudah waktunya untuk bangkit dan bongkar pemahaman lama tentang perempuan!