Catatan Kartini IDN Media: Miliki Pertimbangan dan Pemikiran yang Independen, Perempuan Tunjukkan Pemberdayaan Diri

Amelia Rosary Dewi | 22 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Dewi Suci dari tim IDN Times masih untuk memperingati Hari Kartini

Namanya juga hidup. Beberapa hal memang tak berjalan sesuai dengan apa yang kita rencanakan. Itu hal wajar, kok. Bisa dibilang, menjadi Editor Food Traveler di IDN Times merupakan sebuah “kecelakaan” bagiku. Sesuatu yang tak disangka dan tak direncanakan, terjadi begitu saja secara tiba-tiba. Namun, bila ditanya apakah aku menyukainya, dengan mantap aku akan menjawab, “Ya, tentu saja!”

Mulanya, aku cuma ikut workshop yang diadakan oleh sebuah media konvensional saat masih kuliah dulu. Siapa sangka, aku terpilih sebagai peserta terbaik dan dapat hadiah magang di sana. Setelah lulus kuliah, aku langsung diminta untuk bekerja di sana sebagai reporter. Lebih dari tiga tahun aku bertahan di media tersebut, sebelum akhirnya pindah ke IDN Media empat tahun yang lalu. Sejauh ini, pengalaman yang paling tak kulupakan adalah ketika aku dilarang masuk ke sebuah club malam terkenal di Jakarta karena aku mengenakan hijab.

Lucu juga bila diingat-ingat. Waktu itu, aku sedang diminta untuk liputan khusus laporan investigasi korupsi. Karena aku perempuan dan mengenakan hijab, aku tak hanya dilarang untuk masuk ke club tersebut, tapi aku juga diceramahi oleh satpam yang saat itu sedang bertugas di sana, dengan menggunakan pendekatan sosial sekaligus agama. Haha, jujur saja, aku tak bisa menentukan apakah ini sebuah diskriminasi atau atensi, tapi paling tidak ada satu hal yang bisa aku simpulkan: apabila suatu pandangan sudah terkonstruksi secara umum, akarnya akan tertanam begitu kuat di benak mayoritas orang.

Bukan, bukan aku tak berkenan karena dilarang masuk club hanya karena aku berhijab, tapi aku memikirkan sesuatu yang lebih jauh daripada itu. Di Hari Kartini ini, aku ingin mengilhami kisahku itu dari sudut pandang independensi beropini. Terkadang, kita hanya akan mengikuti arus yang sudah terbentuk, lupa untuk berpikir secara kritis dan independen, terutama dalam hal memberi penilaian pada orang lain. Jangan terbawa arus, suatu common sense yang sudah dibentuk oleh masyarakat. Milikilah pertimbangan dan pemikiran yang mandiri akan suatu hal, apapun itu.

Mengikuti hal tersebut, perempuan juga harus berdaya dulu sebagai individu. Jangan beranggapan, "Ah, aku, 'kan perempuan. Tidak seharusnya aku begini." Atau, "Ah, aku, 'kan, perempuan, wajar kalau bergantung pada orang lain." Kalau kita sendiri menolak untuk berdaya, bagaimana orang lain mau memberdayakan kita? Oleh karenanya, jangan menunggu diberdayakan orang lain untuk menjadi berdaya. Dengan menjadi vokal akan apa yang sebenarnya menjadi maksud kita, kita sudah cukup menunjukkan bahwa kita adalah perempuan yang cakap, tegas, dan berdaya, lho. Selamat Hari Kartini, perempuan-perempuan Indonesiaku!