Catatan Kartini IDN Media: Mundur Bukan Kalah, tapi Siapkan Langkah untuk Maju Lebih Jauh

Amelia Rosary Dewi | 23 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Deby Amaliasari dari tim Product IDN Media masih untuk memperingati Hari Kartini

Hari Kartini. Bagiku, Hari Kartini juga berkaitan erat dengan pendidikan kaum perempuan di Indonesia. Aku percaya bahwa pendidikan merupakan ujung tombak dari segala bentuk pembangunan. Oleh karenanya, kaum perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas dan berkualitas agar dapat mendidik generasi muda sebagai penerus pembangunan bangsa. Apa yang telah diperjuangkan oleh Kartini pun kini sudah menjadi legasi yang harus kita, sebagai perempuan tangguh, teruskan. 

Selain menjadi ujung tombak dari segala bentuk pembangunan, pendidikan, bagiku, juga merupakan upaya perbaikan kualitas hidup perempuan. Dari Kartini, perempuan punya banyak alasan untuk terus berkarya, punya banyak aktivitas yang bisa dilakukan, menciptakan peluang. Aku senang bahwa pemikiran yang menyatakan bahwa perempuan harus mampu mengurus dapur dan hanya melayani suami pun perlahan mulai bergeser. Ditunjang dengan teknologi yang dapat memudahkan kita untuk berkarya dan diketahui, nama-nama perempuan hebat pun terus bermunculan, bahkan saling menginspirasi satu sama lain.

Dulu, saat masih duduk di bangku kuliah, aku adalah orang paling terakhir yang berangkat magang di antara teman-temanku. Bisa dibilang, aku adalah tipe mahasiswa pemilih yang tak mau asal magang hanya untuk memenuhi SKS. Saat itu, aku berandai-andai lebih jauh. Aku berharap agar perusahaan yang menerimaku magang, juga bisa menjadi perusahaan yang menerimaku bekerja secara full-time selepas masa magangku. Siapa yang sangka, hal itu benar-benar menjadi kenyataan! Setelah magang selama tiga bulan, aku ditawari untuk ambil job freelance di IDN Media. Kesempatan ini tentu saja tidak aku lewatkan. Setelah skripsiku selesai, aku bahkan benar-benar diangkat menjadi karyawan tetap dan diberi kesempatan untuk mencoba role baru! Dari pengalaman ini, aku jadi semakin percaya bahwa mundur bukan selalu berarti kekalahan. Mundur, dalam kamusku, berarti merancang strategi untuk maju dua atau tiga langkah lebih jauh.

Secara pribadi, aku merasa hidupku begitu dimudahkan oleh Tuhan. Sebagai perempuan, aku tak memiliki pengalaman pahit yang mungkin saja aku alami sebagai perempuan. Bekerja di bidang teknologi yang sarat akan dominasi laki-laki, aku juga tak pernah dicap dengan stereotip tertentu. Hal ini mendorongku untuk menjadi perempuan yang lebih bersyukur dan lebih mengoptimalkan potensiku. Untuk memulainya, aku percaya bahwa aku, sebagai perempuan, harus mandiri dan lebih toleran.

Mandiri yang kumaksud adalah kemampuan bertanggung jawab atas diri kita sendiri baik secara mental, emosi, karier, maupun finansial. Kita punya pilihan atas kebahagian kita sendiri, selalu setia dengan pilihan yang kita ambil, walaupun pilihan itu mungkin saja menempatkan kita pada posisi minoritas. Kebahagiaan kita, toh, ada pada diri kita, bukan bersumber dari orang lain.

Kemudian, toleransi yang aku maksud lebih berkaitan dengan pilihan yang diambil oleh setiap perempuan. Perdebatan mengenai ibu yang bekerja atau hanya fokus merawat anak, aku rasa, sudah harus kita akhiri. Aku yakin bahwa setiap pilihan yang diambil oleh seseorang pasti memiliki alasan tersendiri yang tak di ketahui oleh semua orang. Oleh karenanya, kita harus bisa menoleransi dan menghormati pilihan setiap perempuan, meski pilihan tersebut berbeda dengan pilihan kita. Pada akhirnya, tak ada yang benar dan tak ada yang salah, sebab semua harus dilihat dari dua perspektif, tidak boleh berdasarkan opini atau asumsi kita saja.

Itulah sedikit hal yang bisa aku bagikan di Hari Kartini ini. Tak ada yang istimewa, tapi kuharap, ceritaku bisa menginspirasi kalian, barang sedikit. Selamat Hari Kartini, perempuan Indonesia!