Catatan Kartini IDN Media: Sebagai Perempuan, Kita Hanya Perlu Motivasi dan Kesempatan untuk Buktikan

Amelia Rosary Dewi | 23 April 2021

Tulisan ini dibuat oleh Windari Subangkit dari tim Popbela.com masih untuk memperingati Hari Kartini

Mau bagaimana pun kita, pasti akan selalu ada pihak yang berkomentar. Kalau komentarnya positif, sih, tentu akan membuat kita senang atau bahkan termotivasi. Namun, bagaimana jika komentar yang disampaikan adalah sesuatu yang sesungguhnya tak ingin kita dengar? Ya, mau bagaimana lagi? Aku rasa, itu sudah reaksi yang pasti terjadi. Sama halnya dengan orang-orang bertubuh “plus size”, aku, dengan postur tubuh yang bisa dibilang mungil ini, juga mengalami bagaimana rasanya di-underestimate.  

Saat duduk di bangku kuliah, aku mengambil jurusan jurnalistik, sesuatu yang sudah kuimpikan sejak kecil. Setelah lulus kuliah, aku berkesempatan untuk menjadi reporter di sebuah media cetak dan TV, sebelum akhirnya aku bergabung dengan Popbela.com. Saat bekerja di stasiun TV, wah, rasanya aku harus memberi apresiasi pada diriku yang saat itu mampu berjuang sendirian, membawa kamera yang lumayan besar sambil liputan. “Kamu, ‘kan, perempuan, kecil lagi, bawa kamera sebesar itu mana bisa? Nanti hasilnya pasti jelek, nggak optimal,” kata rekan-rekanku.

Serba salah, ya? Paling tidak, itulah yang aku pikirkan. Belum lagi ungkapan seperti, “Eh, kamu tidak apa-apa pulang malam? Nggak baik, kamu, ‘kan, perempuan.” Pada dasarnya, ucapan mereka tak mengubah apapun, memang, tapi sebagai perempuan, kadang yang kita inginkan hanyalah ucapan positif dan kesempatan untuk membuktikan bahwa kita mampu melakukannya. Saat menghadapi situasi yang demikian, aku memilih untuk menjadi perempuan yang vokal: berani mengungkapkan apa yang kita pikirkan dan rasakan. Suka maupun tidak, sampaikan dengan santun.

Di Hari Kartini ini, aku tak bisa bercerita terlalu banyak mengenai pengalaman menakjubkan yang aku alami sebagai perempuan. Bisa dibilang, pengalamanku mungkin hampir sama dengan apa yang mayoritas kalian alami. Namun, paling tidak, dengan pengalaman-pengalaman yang tak seberapa ini, aku tersadar bahwa perempuan harus bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Kita harus kokoh. Ada kalanya kita membutuhkan laki-laki, tapi membutuhkan laki-laki tidak sama dengan bergantung pada mereka sampai saat mereka tak ada, kita limpung. Bukalah juga wawasan yang luas, jangan mau lenyap ditelan era. Selamat Hari Kartini!