Budaya Perusahaan Lemah, Ini 3 Dampaknya

Amelia Rosary Dewi | 28 August 2020

Kultur perusahaan menjadi salah satu kunci penting yang menentukan keberhasilan suatu perusahaan. Sebagai landasan yang membantu perkembangan personal dan profesional karyawan, berikut 3 dampak utama bila sebuah perusahaan tak memiliki kultur kerja yang kuat menurut Winston Utomo, Founder dan CEO IDN Media.

1. Berjalan tanpa arah

 

Demi membangun kultur kerja yang baik, seperangkat nilai dan kepercayaan tentang bagaimana karyawan harus berperilaku memang sangat dibutuhkan. Bahkan, menurut Winston, kultur tersebut sudah harus tercipta pada periode awal didirikannya sebuah perusahaan. 

"Kalau IDN Media punya Timmyness, serangkaian kultur aplikatif yang telah ada sejak IDN Media pertama kali diinisiasi oleh William Utomo (Founder dan COO IDN Media) dan saya. Pada minggu pertama setelah ide tentang IDN Media muncul, Timmyness pun hadir mengikuti," terang Winston. 

Seperti reaksi berantai, kultur kerja memang bisa memengaruhi elemen krusial lain dalam bisnis. Tanpa adanya kultur kerja yang positif dan kuat, lingkungan kerja yang nyaman pun akan sukar diciptakan. Kalau tak segera dibenahi, hal seperti ini tentu bisa berpengaruh pada produktivitas karyawan dan, lebih masif lagi, keberhasilan perusahaan, lho

"Mereka tidak akan nyaman. Soalnya, mereka saja tak tahu nilai apa yang sebenarnya diharapkan dari mereka sebagai seorang manusia profesional. Memang, mereka akan mengerjakan apa yang seharusnya dikerjakan, namun kurang bisa memahami intisarinya. Seperti berjalan tanpa arah," Winston menganalogikan. 

2. Kemampuan yang percuma

 

Perilaku memang dibentuk melalui kebiasaan sehari-hari. Namun, itu saja tak cukup. Seseorang juga harus memiliki inisiatif dan kesadaran diri penuh untuk mengaktualisasikan niat baik tersebut. Pihak lain mungkin bisa saja menginspirasi, namun hanya orang itulah yang dapat benar-benar melakukannya.

Inilah alasan mengapa Winston selalu menegaskan, “First and foremost, integritas dan sikap positif seseorang adalah hal utama yang harus dinilai. Tidak peduli seberapa berbakatnya seseorang. Semua itu akan percuma, tak berarti apa-apa bila ia saja tidak menerapkan kultur-kultur positif di dalam dirinya sendiri. Harus diingat, it comes from within.”

3. Kurangnya antusiasme dan positivity

 

Kultur bisa menjadi guideline bagi para karyawan dalam menyikapi tantangan atau pun masalah. Winston mengambil contoh, “Kalau di Timmyness, ada 10 poin value yang terkandung di dalamnya. Timmyness nomor 6 misalnya, ‘Maintaining a positive attitude even when things don’t go one’s way’. Dengan melembagakan sikap positif seperti itu melalui budaya perusahaan, Timmy dapat menghadapi dan menyelesaikan tantangan dengan sikap yang lebih tenang.”

Budaya positif di tempat kerja dipercaya dapat meningkatkan produktivitas dan retensi tenaga kerja. Selain itu, karena tingkat stres mereka terjaga, karyawan tentu juga akan tergerak untuk berkomitmen dan turut andil dalam memajukan perusahaan.