Di Lingkup Profesional, Rekan Kerja Saling Pahami Kondisi Emosional

Amelia Rosary Dewi | 17 May 2021

Tulisan ini dibuat oleh Zefanya Deby dari tim Communications untuk program Timmy's Story

Lingkungan kerja menjadi salah satu faktor krusial dalam suatu organisasi. Di lingkup profesional, di mana setiap orang dituntut untuk memberikan upaya teroptimal mereka buat pekerjaan, kondisi psikologis tak jarang menjadi suatu hal yang diabaikan. Emosi yang muncul karena suatu kejadian di kantor malah berakhir diredam dan dibungkam. “Di lingkungan kerja harus profesional, jangan baperan,” kata mereka. Padahal, emosi yang ada justru harus dikelola dengan baik. Nah, buatku, di sinilah peran rekan kerja berada. 
 
Empati memang harus dibangun, termasuk di lingkungan kerja. Hal ini bukan semata-mata untuk meningkatkan kolaborasi antar rekan kerja, namun juga untuk mengasah jiwa kepemimpinan tiap individu. Dengan latar belakang rekan kerja yang sangat beragam, aku tertarik untuk menyampaikan sedikit pandanganku terkait hal tersebut: bagaimana seorang karyawan juga harus mampu membangun koneksi dengan rekan kerjanya secara lebih dalam, bersama dengan segala kompleksitas di baliknya. 
 
1. Bukan alasan untuk berhenti produktif
Dalam bekerja, turbulensi yang tak sesuai dengan ekspektasi kita tentu akan terjadi. Contohnya, akan ada masa ketika kinerja kita berfluktuasi一yang tadinya focus and speed, kini menjadi tak seoptimal biasanya. Namun, pada hakikatnya, kehidupan kita sebagai manusia yang dinamis membuat hal ini wajar saja terjadi. Tanpa bermaksud menjadikan hal ini sebagai alasan buat kita untuk berhenti produktif, so let’s just normalize this for sure!
 
Untuk itu, kita tentu perlu mengambil beberapa waktu untuk menenangkan pikiran, sebelum akhirnya perlahan mengembalikan laju kinerja kita. Di saat-saat seperti ini, koneksi personal yang sudah terjalin apik, ditambah dengan komunikasi terbuka di antara rekan kerja, akan menambah pemahaman dan pengertian satu sama lain. Dengan menjadi pendengar aktif yang solution-oriented bagi rekan kerja, efektivitas dan efisiensi progres kerja pun akan tercipta. Remember, it’s true that we can strive to be perfect, but we’re all humans. That’s why vulnerabilities are okay, even in the workplace.
 
2. Membantu rekan kerja jadi pribadi yang lebih baik 
Tiap kita juga berpeluang untuk membantu rekan kerja kita untuk memproyeksikan diri mereka di masa yang akan datang, serta memastikan bahwa mereka bisa menjadi versi terbaik dari diri mereka secara profesional maupun personal. Hal ini, menurut pandanganku, dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada rekan kerja. Setiap karyawan sudah memiliki jobdesc-nya masing-masing, jadi serahkan dan percayakan saja apa yang sudah menjadi bagian mereka. Dalam jangka panjang, kita akan membuat rekan kerja kita merasa lebih fulfilled, sehingga rasa percaya pada diri mereka juga akan terbentuk.
 
Aku pribadi merasa bersyukur karena pernah mendapatkan kepercayaan dari pimpinan dan rekan-rekan kerjaku dulu. Walau tak semuanya memperoleh hasil yang maksimal, kepercayaan yang aku dapat mampu menumbuhkan rasa percaya diriku, baik secara profesional maupun personal. Menerapkan hal yang sama, sebagai Head of Communications di IDN Media, aku juga merasa bangga pada anggota tim dan rekan satu level yang sudah mengerahkan seluruh semangat mereka pada apa yang mereka lakukan. Tantangan pasti ada dan kadang hasil pekerjaan yang didapat tidak maksimal seperti yang kita harapkan, tapi bukankah ini suatu hal yang wajar? I know they give their best every single day, so progress is still progress.
 
3. Investasi waktu untuk rekan kerja
Bila ditanya mengenai beberapa hal yang harus diberikan oleh diri kita kepada tiap rekan kerja, aku akan menyebutkan tiga, yaitu pengakuan, kepercayaan, dan waktu. Pertama, pengakuan. Ketika mereka berhasil menyelesaikan suatu pekerjaan, terlepas apakah kompleks atau sederhana, berilah rekognisi dan apresiasi. Hal ini tentu dapat mendorong mereka untuk semakin bersemangat dan memberi yang terbaik buat pekerjaan mereka. 
 
Kedua, kepercayaan. Sempat disinggung di poin sebelumnya, kepercayaan adalah salah satu hal krusial. Tak perlu khawatir berlebihan, dengan memberi kepercayaan pada rekan kerja, mereka juga akan mempercayai kemampuan diri mereka sendiri, sehingga mereka akan lebih berani berkreasi dan berkarya. Ketiga, waktu. Memberikan waktu untuk mereka, bagiku, adalah sebuah investasi. Dengarkan keluh kesah mereka, dorong mereka untuk mencapai sesuatu yang lebih besar lagi. Aku pikir, mindset ini sangat penting untuk dimiliki oleh seorang pemimpin.
 
Berempati dengan rekan kerja merupakan salah satu cara kita dalam menerapkan budaya kerja yang positif. Lingkungan kerja yang kompetitif, aku percaya, sudah tidak relevan lagi apabila diterapkan di lingkup kerja zaman sekarang. Semangat kolaborasi harus semakin digalakkan sebab dengan demikian, tingkat stres pun akan menjadi relatif rendah dan semangat kerja yang juga turut meningkat.  Pada akhirnya, semua akan mengimprovisasi performa kita di kantor.