Komunikasi dengan Anak: Orang Tua Juga Harus Mengerti Anak

Cholif Rahma | 3 October 2020

Memasuki usia lima tahun hingga awal Sekolah Dasar, anak sudah mulai menemukan dunianya sendiri. Mulai mengenal lingkungan baru di luar rumahnya, anak akan meresap banyak hal yang dapat memengaruhi emosi dan cara mereka berekspresi. Momen ini bisa dianggap menjadi salah satu momen terpenting bagi pertumbuhan anak, sehingga pengawasan dan pendampingan dari orang tua juga tetap akan dibutuhkan.

Ekspresi tak jarang menimbulkan miskomunikasi antara anak dan orang tua, lho. Oleh karenanya, pada kesempatan kali ini, Ajeng Raviando, seorang psikolog anak, remaja, dan keluarga, memberikan insight seputar pemahaman dan pengajaran ekspresi pada anak. Ia tak sendiri, Raisha Wirapersada, yang lebih akrab dipanggil Caca, Founder Kim and Kin, juga menemani kejadiran Ajeng pada Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 with Tokopedia hari kelima. Berikut adalah beberapa poin penting dari sesi tersebut. Semoga dapat membantu, ya!

1. Jangan lupa ajarkan anak berekspresi

Ketika anak sudah mulai bisa mengekspresikan apa yang ia rasakan, di saat itu pulalah kemampuan berempati anak juga mulai perlu diasah. Katanya, “Fase ini menunjukkan bahwa anak sudah mulai bisa bersosialisasi, menangkap, dan mengolah informasi yang ia peroleh dari sekitarnya. Maka dari itu,adalah penting untuk mengajarkan cara berekspresi pada anak sejak dini. Terutama ekspresi wajah, ya. Orang tua bisa buatkan chart dengan gambar menarik yang berisi ekspresi marah, sedih, senang."

2. Selalu ajak anak mengobrol tentang dunianya

Ketika sudah memahami ekspresi diri dan orang lain, maka anak-anak akan masuk ke tahapan berikutnya, yaitu bersosialisasi. Pada tahap ini, anak mulai menerima segala informasi dari lingkungannya dan mulai menyadari preferensinya: mana yang mereka sukai dan mana yang tidak. Terkait hal tersebut, Caca membagikan pengalamannya, “Sekarang, anak saya sudah bisa menentukan preferensi akan suatu hal. Kalau ditanya mengapa pilih yang ini atau itu, rupanya pilihannya itu juga ditentukan oleh apa yang teman-temannya kenakan atau gunakan. Dulu, pakai baju apapun yang saya pilihkan pasti mau, kalau sekarang sudah bisa memilih."

Ajeng berpendapat bahwa hal tersebut normal terjadi. Ketika anak sudah terpengaruh oleh teman, secara otomatis mereka juga akan mengetahui kesukaannya, kemudian menetapkan gayanya sendiri. "Artinya, ada proses interaksi dan pemahaman akan suatu nilai. Apalagi, anak cenderung menyerap segala sesuatu dengan cepat, ya, itulah mengapa orang tua harus bisa jadi teladan. Selain menasehati, jadi contoh yang baik bagi anak secara praktikal juga harus, apalagi sekarang orang tua dan anak sama-sama menghabiskan sebagian besar waktu di rumah saja, ya,” kata Ajeng.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa komunikasi adalah kunci utamanya. Itu juga yang diterapkan oleh Caca di rumah, “Saya selalu berusaha mencari waktu untuk tetap update tentang keseharian anak saya. Kalau saya dan anak saya, biasanya akan berbincang sesaat menjelang tidur, soalnya dia sudah lebih cool down. Saya akan tanya tadi bermain apa, apakah berantem, lalu memberi nasehat kalau marah itu boleh, tapi tidak boleh berantem.”

3. Belajar memahami anak, bukan sebaliknya

“Sebagai orang tua, kita harus memahami anak, bukan sebaliknya. Misalnya, orang tua sedang marah karena anak sulit nurut. Nah, di saat itulah kita harus ingat kalau anak-anak, terutama usia balita, prioritasnya adalah bermain. Jadi, saat menasehati, usahakan untuk selalu menggunakan bahasa anak,” jelas Ajeng.

Sebagai seorang ibu dengan anak balita, Caca mengungkapkan bahwa terkadang ia juga sulit mengerti apa yang anaknya inginkan. Ia menjelaskan, “Saat sedang memilih baju yang ia sukai, misalnya. Terkadang, kita harus ikut apa yang jadi maunya, tapi di lain waktu, dia bilang, ‘Terserah ibu saja, aku nurut.’ Hal-hal seperti ini kadang terjadi secara abstrak, jadi kebingungan itu sudah pasti ada. Akhirnya, saya putuskan untuk eye level dengan anak. Saya berusaha bertanya apa yang ia inginkan, seolah-olah saya ini temannya. Saya berikan beberapa pilihan atau coba memancingnya dengan warna atau karakter yang dia sukai,” jelas Caca.

Tindakan yang diambil oleh Caca dibenarkan oleh Ajeng. Menurutnya, cara seperti itu dapat menambah kedekatan kita dengan anak, serta menanamkan pemahaman pada anak mengenai ekspresi afeksi atau kasih saya ibu. Hal ini tentu dapat menjadi salah satu contoh yang baik dan praktikal bagi kehidupan anak, terutama di lingkungan keluarga dan sosial.

Rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 masih akan berlangsung hingga 3 Oktober 2020. Mengusung tema "Nurturing the Future-Ready Family", topik-topik parenting yang menarik akan dihadirkan setiap harinya dan dibahas langsung oleh para pakar. Penonton dapat menyaksikan rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 secara gratis melalui platform Zoom, YouTube, dan website popac.popmama.com.