Idul Fitri, Jaga Relasi Baik dengan Individu atau Kelompok Manusia Lain

Amelia Rosary Dewi | 14 May 2021

Hari Raya Idul Fitri menjadi momen yang paling dinanti oleh seluruh umat Muslim di seluruh dunia. Idul Fitri sendiri merupakan hari kemenangan bagi umat Muslim setelah berpuasa selama satu bulan penuh. Menyambut Hari Raya Idul Fitri, Awaluddin Rachman, GA, Legal, dan Office Manager, Febrianti Diah Kusumaningrum, Community Editor, dan Paulus Risang Pratama, Editor Regional membagikan sudut pandang mereka tentang makna Idul Fitri secara lebih mendalam.
 
Mengawali pembicaraan kami berempat siang itu, Awal menyampaikan pendapatnya, “Menurut saya pribadi, Bulan Suci Ramadan dan Idul Fitri merupakan satu rangkaian hari besar bagi umat Muslim. Keduanya hadir sebagai reminder bagi kita untuk terus menjaga konsistensi dalam berbuat baik. Setelah sebulan penuh menahan hawa napsu, hadirlah Hari Raya Idul Fitri sebagai simbol kemenangan kita.”
 
Mengamini hal tersebut, Febrianti menyatakan, “Sebagai seorang Muslim, Idul Fitri selalu aku maknai sebagai momen untuk pulang ke diri sendiri serta Sang Pencipta. Secara ikhlas mengosongkan diri untuk kemudian diisi dengan semangat dan pedoman baik sebagai bekal melanjutkan kehidupan.” Dengan demikian, dirinya mengaku selalu bersyukur karena masih diberi kesehatan dan umur panjang untuk kembali bertemu dengan Idul Fitri dan merayakannya dengan orang-orang tercinta.
 
Pada dasarnya, tak ada agama yang tak baik. Paulus Risang Pratama, seorang Mualaf yang tumbuh dengan latar belakang agama yang beragam, menyatakan, “Islam juga, ‘kan, artinya damai, keamanan, kenyamanan, perlindungan. Apapun agamanya, saya percaya bahwa perangai itu kembali ke pribadi masing-masing, kok. Di Idul Fitri ini, coba hargai saudara atau tetangga kita yang Non-Muslim dengan memberikan masakan khas Lebaran, misalnya. Niatnya hanya satu, yaitu berbagi dan ajak mereka untuk merasakan kebahagiaan yang kita rasakan.”
 
Benar. Idul Fitri tentu memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar memberikan masakan khas Lebaran bagi saudara dan tetangga. Ada esensi yang lebih mendalam di baliknya, yaitu kembali fitri dan memenuhi hati dengan kedamaian dan sukacita. Mengajak orang lain untuk turut merayakan kebahagiaan tersebut tentu juga menjadi fulfillment tersendiri bagi umat Muslim yang merayakan. “Jadi, tidak perlu terlalu meributkan 'ritual' Idul Fitri yang sudah jadi tradisi umum untuk dilakukan, seperti mudik, belanja, atau euforia lainnya. Alhasil, kita bisa lebih nerimo ketika Idul Fitri harus dirayakan di rumah saja,” terang Febrianti.
 
Febrianti sendiri adalah seorang Muslim yang menghabiskan sembilan tahunnya untuk menuntut ilmu di sekolah swasta Katolik. Ia melanjutkan, “Meski tiap hari berdoa Bapa Kami dan Salam Maria, serta ikut misa setiap tiga bulan sekali, aku masih menjalankan ibadahku sebagai seorang Muslim, misalnya berpuasa. Teman-temanku sangat toleran dengan berusaha untuk tidak makan atau minum di depanku. Hal ini berlanjut dengan saling memberi doa dan ucapan selamat saat kami merayakan ari raya agama masing-masing. Memori baik itulah yang membuatku tumbuh sebagai manusia yang toleran terhadap segala macam perbedaan entah itu menyangkut agama, suku, ras, pilihan hidup masing-masing, dan hal lainnya.”
 
Di zaman yang serba modern ini, bukankah tak relevan lagi bila perbedaan dianggap sebagai suatu pemantik keributan? Sejatinya, yang dibutuhkan manusia untuk hablum minannas, konsep di mana manusia menjaga hubungan baik dengan individu atau kelompok manusia lainnya, adalah akhlak yang berangkat dari nilai baik masing-masing agama yang diyakini. Jika manusia sudah paham hal tersebut, meributkan agama pasti sudah dinilai tak bermanfaat lagi untuk dilakukan. Bukankah sudah fitrahnya manusia untuk selalu berbuat baik pada siapa pun dan apa pun?