Jangan Anggap Sepele, Orang Tua Juga Perlu Perhatikan Kesehatan Mental

Amelia Rosary Dewi | 3 October 2020

Di tengah pandemik COVID-19 seperti sekarang, kesehatan badan bukanlah satu-satunya hal utama yang wajib dijaga, lho. Kesehatan mental adalah salah satu hal lain yang perlu Mama dan keluarga perhatikan, sehingga kondisi jasmani dan rohani kita dapat terjaga dengan selaras. Orang tua yang sehat secara mental pun tentu dapat membantu anak mereka untuk melakukan kegiatan di rumah dengan lebih baik.

Pada hari kelimanya, Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 with Tokopedia mengundang Putu P.D Andani M.Psi., Psikolog, seorang psikolog anak dari TigaGenerasi, untuk berbagi materi mengenai “Tips dan Trik Keluarga Sehat Mental di Masa Penuh Tantangan 4.0”. Kira-kira, apa saja, ya, yang dapat orang tua lakukan untuk menjaga kesehatan mental diri dan anak? Yuk, kita simak!

1. Ciri orang sehat mental

Mengawali sesi Kulwhap-nya (Kuliah Whatsapp), Putu menyampaikan beberapa ciri utama yang menggambarkan kesehatan mental seseorang. Katanya, “Ciri yang pertama adalah individu sadar akan kemampuannya. Hal ini ternyata bisa menjadi pengingat akan jati diri kita sendiri, sehingga ketika keadaan di sekitar kita sedang kurang baik atau berjalan tak sesuai dengan rencana, kita bisa fokus pada kelebihan kita juga, jadi bukan kekurangan kita saja.”

Ciri yang kedua, ia menyebutkan, “Seseorang yang sehat secara mental juga mampu mengatasi rasa stres mereka dengan efektif. Maksudnya seperti apa? Maksudnya, individu yang sehat mental ini memiliki beberapa strategi pribadi yang ia rasa jitu untuk menenangkan rasa stresnya.” 

Selanjutnya, Putu menyatakan, “Ketika seseorang dapat bekerja secara produktif dan menjadi berguna untuk orang-orang di sekitarnya, ia bisa dikategorikan sebagai individu yang sehat secara mental. Tidak harus menciptakan sesuatu, seorang Mama, misalnya, juga merupakan seseorang yang produktif karena ia pun turut mengambil peran besar untuk menjaga dan merawat kesehatan mental anaknya.”

2. Stresor utama saat ini

Persoalan yang dihadapi oleh keluarga, terutama selama masa pandemik ini, tentu juga dapat menjadi sumber konflik juga di keluarga. “Ada rasa stres, ditambah dengan perilaku anak yang semakin berani menentang, kemudian time management keluarga yang terganggu. Pertama, stres: fakta bahwa anggota keluarga harus bersama-sama menghadapi kebosanan, beradaptasi dengan berbagai rutinitas baru, serta terbatasnya pilihan rekreasi selama masa pandemik, menjadi salah satu stresor utama saat ini” terang Putu.

Bila sebelumnya anak sudah berani menentang hampir setiap apa yang kita lontarkan, saat ini frekuensi perilaku kurang baik tersebut juga bisa saja meningkat, lho. “Mungkin beberapa Mama yang memiliki anak seumuran toddler mengalami hal ini. Bila sebelum pandemik anak sudah berani menentang, sering kali menolak apa yang kita minta, tantrum ini malah semakin menjadi-jadi selama masa pandemik. Kembali lagi pada poin awal, mostly ini disebabkan oleh stres yang terjadi pada anak.”

Ketiga, time management juga menjadi isu yang juga harus diperhatikan. “Sebelum pandemik, tak sedikit orang tua yang menganggap kemacetan sebagai penyebab kurangnya waktu untuk berkumpul dengan keluarga. Ironisnya, hal ini bergeser: kini mereka tak tahu cara membagi waktu antara pekerjaan dengan keluarga. Misal, Mama dan Papa yang harus secara strict bagi jadwal untuk menjaga anak,” ungkapnya.

3. Redakan stres pada orang tua

Karena orang tua adalah cerminan dari anak, kita, sebagai orang tua, sudah seharusnya mampu memberikan contoh untuk dapat mengelola stres pada diri kita sendiri. “Pertama, kenali dulu hal yang paling sering menjadi pemicu stres kita, ya. Misalnya, Mama A akan panik atau hilang kendali bila anak menangis. Di lain sisi, Mama B bisa handle hal semacam itu, namun tidak saat suaminya harus pulang larut malam karena lembur. Stresor satu orang dengan yang lain itu berbeda,” ia menyatakan.

Step kedua yang harus dilakukan adalah mencoba eksplor cara mana yang paling efektif dan efisien untuk mengurangi stres tersebut. “Apakah self talk, atur napas, minum air putih, atau cara lain yang lebih spesifik. Karena detak jantung kita jadi berderu lebih cepat bila sedang marah, atur pernapasan adalah cara paling jitu. Tarik napas yang dalam dan buang napas perlahan, ulangi dua hingga tiga kali. Dengan demikian, detak jantung akan semakin teratur. Nah, ketika itu terjadi, badan akan kirimkan sinyal ke otak: oh, jantungnya sudah tenang, persepsi yang ditangkap oleh otak adalah seolah kita sudah tak marah,” ia menerangkan.

Step terakhir yang Putu sarankan adalah self-affection. Terangnya, “Me time itu lebih sering digaungkan, tapi sejatinya, self-affection ini lebih kompleks. Pada penghujung hari, setelah selesai merefleksikan apa saja yang terjadi di hari itu, kecewa tak jarang muncul. Misal, saat harus angkat telepon dari kantor, anak kita malah terjatuh. Yah, tarik napas, kemudian buang, akui saja bila itu memang telah terjadi. Kendati demikian, kejadian itu ada di luar kontrol diri Mama. Toh, anak juga dalam kondisi baik., jadi cobalah untuk memaafkan diri sendiri.”

4. Kebahagiaan diri

Dari dua puluh empat jam, waktu tidur kita hanyalah tujuh hingga delapan jam per harinya. Oleh karenanya, kita harus memastikan bahwa waktu beraktivitas kita telah kita gunakan secara optimal. “Salah satu caranya adalah dengan tidak membuang energi pada sesuatu yang sebenarnya tidak perlu kita pikirkan. Contohnya, kita risau karena prestasi anak yang mulai menurun setelah pandemik. Terlalu fokus pada hal itu, kita malah jadi mengabaikan fakta bahwa ternyata, seluruh teman si kecil juga mengalami hal yang sama; bahwa padahal, hal ini bisa dibilang normal untuk saat-saat seperti ini,” jelas Putu. 

Menutup sesi siang itu, ia menambahkan, “Fokuslah pada diri kita. Jangan sampai waktu kita habis untuk mengurusi orang lain, lalu lupa bahwa kita pun perlu di-recharged agar kesehatan mental dan ketenangan diri kita juga terjamin. Bila kita sendiri stres, hal ini juga akan berpengaruh pada aktivitas kita bersama keluarga. Atmosfer yang ada pun akan terkesan tak positif dan kurang menyenangkan.”

Rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 masih akan berlangsung hingga 3 Oktober 2020. Mengusung tema "Nurturing the Future-Ready Family", topik-topik parenting yang menarik akan dihadirkan setiap harinya dan dibahas langsung oleh para pakar. Penonton dapat menyaksikan rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 secara gratis melalui platform Zoom, YouTube, dan website popac.popmama.com.