#MenjagaIndonesia: Berburu Vaksin COVID-19 Sampai ke Tiongkok

Amelia Rosary Dewi | 7 August 2020

Merayakan HUT ke-75 Kemerdekaan Republik Indonesia di tengah pandemik, IDN Times meluncurkan kampanye bertajuk #MenjagaIndonesia. Kampanye ini memiliki relevansi dengan keadaan rakyat Indonesia yang harus membentengi diri dari paparan virus Corona, namun di saat yang sama juga harus menjalankan tugasnya menjaga cita-cita luhur negara Indonesia.
 
Sebagai salah satu rangkaian kampanye tersebut, IDN Times mengadakan rangkaian 8 webinar spesial mulai tanggal 7-18 Agustus 2020. Di hari pertamanya, IDN Times mengadakan webinar berjudul "#MenjagaIndonesia: Berburu Vaksin COVID-19 Sampai ke Tiongkok". Webinar ini mengundang Prof. Herawati Sudoyo (Wakil Kepala Lembaga Eijkman Institute), Dr. Sri Hasri Teteki (Direktur Pemasaran Biofarma), Nikkolai Ali Akbar (Ketua Umum PPI Tiongkok), dan Diah Saminarsih (Senior Advisor on Gender and Youth to the WHO DG).
 
Berikut beberapa poin penting yang dibahas oleh panelis dalam webinar perdana tersebut:
 
1. Kapabilitas bangsa tentukan tekad membuat anticorona secara mandiri

 

Pengetahuan ilmiah yang menguat, serta tersedianya SDM dan fasilitas yang memadai semakin mendorong Indonesia untuk menciptakan vaksin anticorona secara mandiri. "Kita bikin vaksin dari isolat virus Indonesia. Saat ini, proses kita sudah hampir menghasilkan antigen," ucap Prof. Herawati. 
 
Bekerja sama dengan Sinovac Biotech Co. Beijing, dosis vaksin asal China telah diterima oleh pihak Bio Farma. Teteki menyatakan, "Memenuhi standar uji klinis I dan II, uji klinis ke-III rencananya akan dilakukan bersama pihak UNPAD minggu depan. Diharapkan vaksin dapat tersedia pada akhir Januari 2021."
 
2. Pentingnya kolaborasi global

 

Contoh di atas menunjukkan betapa kolaborasi global sangat diperlukan dalam penanggulangan COVID-19. Tak terbatas pada isu vaksin saja, namun juga respon terhadap COVID-19 secara umum. "Sebanyak 215 negara terinfeksi COVID-19. Artinya, upaya 1 negara tak akan berarti atau memiliki hasil yang signifikan bila tak kerja sama. Inilah yang disebut sebagai lateralisme," kata Diah. 
 
Ketidaksediaan anticorona sejauh ini, kata Diah, tentu akan menggandakan apresiasi terhadap penemuan vaksin. "Siapa yang pertama kali sampai ke garis finish, produk itulah yang akan dijadikan acuan oleh banyak pihak. WHO juga berperan sangat penting di sini, yaitu memastikan bahwa ada equal access to vaccine," ia menambahkan. 
 
3. Momen yang tepat untuk The Great Reset

 

Di sisi lain, Nikkolai, selaku Perhimpunan Pelajar Indonesia di Tiongkok, pun hadir untuk memberikan informasi terbaru mengenai para pelajar Indonesia di Tiongkok. Ia juga memberikan pandangannya terkait kebijakan yang selama ini telah pemerintah Indonesia terapkan untuk menekan angka penyebaran COVID-19 di Tanah Air.
 
"Kasus di Tiongkok dan Indonesia tak bisa disamakan. Dengan satu perintah dari pusat, orang-orang di Tiongkok akan dengan mudahnya menaati peraturan itu. Kalau pemerintah Indonesia, sih, lebih beri kepercayaan kepada rakyatnya. Dengan kelonggaran yang ada, bukan berarti kita bisa melakukan segala aktivitas dengan normal, ya," ia berujar. 
 
Pada kenyataannya, Virus Corona memang menjadi peristiwa bersejarah yang penuh ketidakpastian. Namun, di sisi lain, COVID-19 juga dapat menjadi momen yang tepat untuk berkembangnya The Great Reset. Dengan demikian, Indonesia diharapkan menjadi negara yang lebih tangguh dan tahan banting.
 
Jangan lewatkan rangkaian webinar #MenjagaIndonesia selanjutnya, hanya di YouTube IDN Times.