#MenjagaIndonesia: Kisah Garda Terdepan Hadapi Pandemik COVID-19

Amelia Rosary Dewi | 11 August 2020

Selasa, 11 Agustus 2020 ini, IDN Times mengadakan sebuah webinar berjudul #MenjagaIndonesia: Kisah Mereka Garda Terdepan Negeri. Pada webinar episode ke-3 dari rangkaian kampanye #MenjagaIndonesia ini, IDN Times mengundang empat pembicara dari berbagai disiplin: Dr. Bima Arya Sugiarto (Walikota Bogor), AKBP Rita Wulandari Wibowo, S.IK., M.H (Kapolres Tegal Kota), dan dr. Debryna Dewi (Dokter di RSPP COVID-19 Extension).
 
1. Merasa aman, berakhir menyepelekan

 

Sebagai wilayah yang sempat menjadi zona hijau, Tegal kini kembali memiliki beberapa pasien positif COVID-19. Rita, selaku Kapolres Tegal Kota, menyatakan, “Masalah utama yang kerap kami temukan adalah masalah kedisiplinan terkait penerapan protokol kesehatan. Wilayah Tegal memang sempat masuk zona hijau, mungkin itu juga yang membuat mereka merasa aman, sehingga berakhir menyepelekan.” 
 
Menaati instruksi presiden nomor 6 tahun 2020, Rita menegaskan, “Pihak kepolisian sudah berusaha mendisiplinkan masyarakat. Walikota juga sudah bentuk beberapa komunitas atau kelompok usaha yang diminta untuk mengedukasi banyak pihak tentang COVID-19―di perkantoran atau tempat-tempat umum lain, jadi tidak semua harus digalakkan oleh TNI atau POLRI.”
 
2. Naiknya angka kriminalitas dan kekerasan rumah tangga

 

Tak hanya kesehatan, COVID-19 juga memberi dampak sosial dan ekonomi. “Angka kriminalitas naik, demikian pula dengan jumlah kasus kekerasan rumah tangga. Upaya preventif yang sedang kami garap adalah memberdayakan para ibu rumah tangga melalui sebuah program kerja yang kami laksanakan bersama para pelaku UMKM untuk membuat sarung tenun Goyor khas Kota Tegal,” lanjut Rita.
 
Dengan demikian, pendapatan keluarga akan bertambah, dampak kekerasan yang diakibatkan oleh situasi keruh dalam rumah tangga pun dapat diminimalisasi. Tak hanya itu, anak-anak, yang kini lebih sering menghabiskan waktu untuk belajar di rumah, tak harus menjadi saksi situasi tak kondusif yang mungkin pernah terjadi di keluarga mereka.
 
3. Memerangi sikap acuh tak acuh

 

Sikap acuh tak acuh masyarakat juga dibenarkan oleh Bima, Walikota Bogor, dan Debryna, Dokter RSPP COVID-19. “Kasus naik, tapi kesadaran masyarakat untuk tetap waspada akan COVID-19 malah turun. Kita sedang perang, lho, perang menghalang sikap ignorant ini,” kata  Bima.
 
Data yang kerap di-highlight oleh media juga menjadi faktor lain yang dapat memengaruhi sikap masyarakat terkait COVID-19. Bima mengucapkan, “Pernah disebutkan bahwa 87% pasien positif COVID-19 merupakan pasien tanpa gejala yang dapat sembuh dalam kurun waktu 2 minggu. Alih-alih menciptakan suasana positif, data seperti ini malah membuat mereka skeptis dengan fatalitas COVID-19.”
 
“Nyatanya, tiap hari saya melihat banyak pasien COVID-19—dari yang tanpa gejala, sampai yang paling parah. COVID-19 ini benar-benar ada. Ingin rasanya memberikan report langsung dari lapangan, tapi karena ada kode etik yang tak mungkin dilanggar, saya tak bisa melakukannya,” lanjut Debryna, menegaskan bahwa COVID-19 masih menjadi momok bagi keberlangsungan kehidupan manusia di muka bumi.
 
Krisis ini belum selesai. "Sebelum resmi ada vaksin, kita masih berjuang untuk mengusir COVID-19. Tetap jaga akses informasi, namun pastikan juga bahwa informasi tersebut didapat dari sumber yang terpercaya. Jangan skeptis pada apa yang terjadi sebab COVID-19 ini masih benar-benar ada," pungkas Debryna lagi, menutup perbincangan sore itu.