Ngobrol Bareng IDN Times Bali: Pertahankan Budaya Bali di Tengah Modernisasi

Cholif Rahma | 11 October 2020

Menyadari pentingnya pemberitaan yang merata dan tidak hanya terfokus di sekitar Jakarta saja, IDN Times membentuk biro-biro perwakilan, atau disebut juga Hyperlocal, di beberapa wilayah lain di Indonesia. Salah satunya adalah IDN Times Bali, tempat Irma Yudistirani dan beberapa Timmy IDN Media lainnya bertugas memberitakan berbagai macam informasi seputar wilayah Bali.

Tinggal di Bali, Irma bercita-cita untuk terus melestarikan tradisi dan budaya Bali yang sudah mendunia. Bersama dengan IDN Times Bali, apa saja yang dilakukan Irma dan tim IDN Times Bali untuk ikut melestarikan budaya daerah mereka? Yuk, kita simak!

1. Bantu menyampaikan suara masyarakat Bali

“Saya selalu update tentang informasi yang beredar di grup lokal Bali. Dengan demikian, saya bisa mengetahui berbagai informasi, bahkan keluhan dari para netizen tentang isu-isu di Bali,” kata Irma saat ditanya terkait kesehariannya sebagai bagian dari tim IDN Times Bali.

Bagi Irma maupun tim IDN Times Bali lainnya, mendekatkan diri dengan masyarakat sangat penting untuk dapat menghasilkan pemberitaan yang baik. “Segala bentuk keluhan maupun masukan yang berusaha masyarakat suarakan, dapat tersampaikan melalui para reporter kami. Namun, meski engagement dengan masyarakat penting, kami tetap harus memilah lagi: mana yang harus di-publish dan mana yang tidak,” tambah Irma.

Selain dekat dengan masyarakat, Irma juga bertanggung jawab memastikan kredibilitas berita demi menghindari hoaks dengan terus berkoordinasi dengan tim. “Saya harus selalu mengingatkan reporter untuk terus pasang mata dan telinga selama di lapangan, jadi tidak ada informasi yang miss,” ujar Irma.

2. Terus membagikan hal positif

Selain melalui berita, IDN Times Bali juga cukup sering mengadakan workshop untuk berbagi ilmu dengan masyarakat Bali. “Saya sangat senang ketika workshop yang diadakan dapat membawa pengaruh positif bagi banyak orang. Biasanya, tema workshop juga beragam. Mulai dari tentang UMKM hingga kebudayaan,” cerita Irma bersemangat.

“Bahkan, setelah workshop usai, masih banyak, lho, yang menghubungi untuk sharing. Ada juga yang request untuk adakan workshop lagi,” tambahnya. Irma menyatakan bahwa antusias masyarakat terhadap event yang diadakan oleh IDN Times Bali terbilang sangat tinggi. Hal tersebut tentu memotivasi dirinya dan tim untuk terus menyelenggarakan acara-acara lain yang lebih menarik dan informatif.

3. Kenali budaya Bali, millennial harus jaga budaya lokal

“Masyarakat Bali sangat percaya bahwa campur tangan Tuhan itu di mana-mana, di setiap karya manusia. Ada tiga elemen unik yang dapat kita temui di Bali. Ada ‘Taksu’, spirit yang dipercaya menaungi kehidupan sosial religius masyarakat Bali. ‘Ritual’, cara masyarakat Bali memberikan persembahan suci. ‘Spiritual’, hubungan antara manusia dan Tuhan,” terang Irma. 

Ketiga keunikan yang dijumpai di Bali tersebut tentu menjadi seperangkat warisan yang tak ternilai harganya. “Kita perlu sama-sama mengingat bahwa Bali merupakan sebuah provinsi di Indonesia yang masih sarat akan tradisi dan budaya. Sebagai millennial, kita bertanggung jawab untuk terus melestarikannya,” katanya.

Ia melanjutkan, “Di tengah gempuran budaya asing yang masuk ke Pulau Bali, generasi millennial adalah generasi yang menentukan eksistensi budaya lokal: apakah akan bertahan atau hilang menjadi kenangan. Kebersihan dan kelestarian alam juga harus diperhatikan. Jangan biarkan pembangunan dan modernisasi malah merusak alam.”

Menutup perbincangan siang itu, Irma berpesan, “Jangan takut untuk keluar dari zona nyaman, seperti merantau ke luar daerah untuk menambah ilmu. Dengan demikian, banyak insight baru yang kita peroleh. Kalau sudah, harus local pride juga, jangan malu bicara pakai bahasa daerah masing-masing. Tak terbatas pada Bali saja, ya.”