Obituari Erina Wardoyo: Penggawa Hype yang Akan Selalu Kami Rindukan

Amelia Rosary Dewi | 22 February 2021

Tak ada yang menyangka, duka mendalam akan mengguyur IDN Media pada Senin (22/2/2021). Keluarga IDN Media baru saja kehilangan salah satu anggota terbaik kami, Erina Wardoyo, akibat sakit pada usia 30 tahun.
 
Bagi sebagian besar pembaca IDN Times, Erina Wardoyo adalah jurnalis dan editor yang selalu menyajikan berita dari sudut pandang menarik. Bagi seluruh keluarga besar IDN Media, terutama IDN Times, Erina adalah saudara, sahabat, dan rekan yang tak tergantikan.
 
Erina Wardoyo merupakan sosok yang sangat kreatif, inovatif, cerdas, dan kompeten. Selama berkarier di IDN Times, ia telah mewariskan banyak ilmu dan inovasi yang memperkukuh pencapaian kami sebagai tim. Dengan segala pemikiran briliannya, Erina tidak pernah pelit ilmu. Ia selalu terbuka untuk berbagi dengan siapa saja. Jasa dan kebaikannya tak terkira.
 
Sebagai sahabat, Erina Wardoyo adalah sosok yang unik dan tiada dua. Bagi yang belum kenal dengannya, mungkin ia terkesan tak banyak berkata. Namun, jika sudah berhasil membuka hatinya, Erina adalah sosok yang hangat, humoris, dan selalu bisa menceriakan suasana. 
 
Semua orang menyayanginya, bahkan yang belum kenal ingin dekat dengannya. Mereka yang sudah dekat ingin jadi sahabat karibnya. Sosok yang lucu dan bersinar dengan pesona istimewa. Wajar rasanya jika berita kepergian Erina Wardoyo menjadi pukulan berat bagi kami. 
 
Di tengah kondisi sulit yang menerpa kita, kabar berpulangnya Erina menambah lara dalam hati kami semua. Hal ini terasa tiba-tiba, kami tidak siap kehilangan sosoknya. Namun, Sang Khalik tahu yang terbaik buat saudari kami Erina Wardoyo. Ia dikenang dengan penuh cinta dan kasih. Doa dan ujaran terbaik tentang dirinya terus mengalir.
 
Dan lewat obituari ini, kami, para sahabatmu di IDN Times, ingin menorehkan penghormatan untukmu, kawan. Semoga kamu selalu bahagia di pangkuan-Nya. Terbang tinggi Erina, terus bersinar dari sisi Yang Maha Kuasa.
 
Winston Utomo

Kabar duka datang menghampiri segenap keluarga besar IDN Media. Sahabat kita semua, Erina Wardoyo, telah meninggal dunia pada hari ini, 22 Februari 2021, di Tulungagung, Jawa Timur.

Erina lahir di Ponorogo, tanggal 12 September 1990. Ia pertama kali bergabung di IDN Media pada 29 Agustus 2016. Kreativitas dan kecerdasan Erina dalam mengeksplorasi tulisan memberikan sangat banyak kontribusi tak ternilai terhadap IDN Times dan IDN Media. Bagi para Timmy, Erina bukanlah sekadar rekan kerja, ia juga sahabat yang tak tergantikan. Bagi mata awam yang belum mengenalnya, ia mungkin terkesan pendiam.

Namun, di balik itu semua, Erina adalah sosok yang brilian, hangat, nan humoris. Kompeten dan sangat bisa diandalkan di segala situasi. Perannya begitu besar bagi IDN Media. Ia juga seorang yang sangat berintegritas dan positif.

Saya pribadi masih ingat jelas ketika saya mewawancarai Erina pada 16 Agustus 2016 jam 12 siang. Rendah hati, sopan, dan apa adanya. Kami semua di IDN Media pasti akan merindukanmu, Erina.

Uni Lubis

Aku kaget, Erina. Shock. Lemas. Sulit untuk percaya. Suara Ernia Karina, koordinator editorial IDN Times Surabaya, pelan dan sarat kesedihan di ujung telpon, Senin pagi, jelang rapat editorial mingguan. Buatku, kabar yang dia sampaikan bagaikan pukulan keras. Menghujam ke dada. Innalillahi waina ilaihi rojiun. Kamu pergi terlalu cepat. Saat sebagian dari hasrat dan mimpimu di IDN Times belum terwujud. Allah SWT lebih sayang kamu dan memintamu kembali ke haribaannya. Insyaallah, kamu diberikan kelapangan menuju surga-Nya. Amin, Ya Rabbal Alamin.

Kecintaanmu terhadap apa yang kamu kerjakan luar biasa. Kepergianmu adalah kehilangan tak terkira, buatku, teman-teman IDN Times, dan IDN Media. Praktis, kamu tumbuh berkembang bareng media ini. Dalam diammu, juga dalam candamu yang bikin ger-geran satu ruangan. Bikin gemas.

Kamu editor yang paling rajin minta sesi 1 on 1.  Saat aku ngantor ke Surabaya, maupun lewat telepon, terutama di saat pandemik ini. Sejak kali pertama kita ngobrol di sofa di pojokan C2, Desember 2017, sampai percakapan kita minggu lalu, pesan dari kamu selalu sama: menitipkan aspirasi tim Hype dan ide mengembangkan rubrik ini agar dapar menjadi yang terbaik. Kamu sangat fokus dan loyal. Kamu rela berkorban energi, waktu, bahkan materi untuk kemajuan rubrikmu. Jarang sekali menjumpai seseorang dengan dedikasi dan integritas luar biasa seperti kamu.

Beristirahatlah dengan tenang, Erina Wardoyo. Terima kasih sudah menjadi teman bekerja yang menginspirasi. Terima kasih untuk semua yang kamu lakukan untuk kami. Untuk IDN Times. Aku bersaksi kamu orang yang sangat baik. Kamu akan sangat dirindukan.

Umi Kalsum

Hai Er, kabar kepergianmu benar-benar membuat saya dan teman-teman lain terkejut. Sampai saat ini pun saya masih tidak percaya. Ketika pertama kali mendengarnya, saya berharap itu bukan kamu, Er. Bukan Erina Wardoyo yang saya kenal. Namun apalah saya dibandingkan kuasa Allah.

Rapat redaksi Surabaya pekan lalu jadi hari terakhir saya mendengar suara khasmu yang selalu menularkan keceriaan. Rapat-rapat selanjutnya tak akan pernah sama lagi tanpa kamu. Kita memang tak tiap hari ketemu, bahkan baru sekali bertemu muka, itu pun hampir setahun yang lalu, tapi kamu teman yang ngangenin. Dan, kita ternyata sama-sama penggemar Ong Seung-wu. Waktu ke kantor Surabaya, saya lihat foto-foto Ong di meja kerja kamu.

Kamu yang terbaik, Er. Semua teman dan rekan kerjamu bilang kamu orang baik. Saya tahu kamu punya banyak impian dan rencana, tapi Allah juga punya rencana terbaik buat kamu. Terima kasih atas semangat dan dedikasimu yang luar biasa. Selalu tersenyum dari atas sana ya....

Triadanti

Tak ada yang bisa menyiapkan diriku akan kehilanganmu. Sejak pertama kudengar kabar kepergianmu hingga detik aku menulis pesan ini perasanku masih berkecamuk. Nelangsa dan tak percaya menghantui hatiku bergantian.

Erina, kita baru bersama selama tiga tahun, tapi kau sudah jadi bagian besar dalam kehidupanku. Banyak kenangan indahku yang dibuat bersamamu. Kamu bukan hanya rekan kerja, tapi sahabat. Ah, bahkan kerabat. Masih kuingat bagaimana aku dijamu dengan baik oleh keluargamu selama kita liputan di Tulungagung, kampung halamanmu. Aku melihat sisi lain darimu, seorang anak perempuan yang sangat mencintai keluarga. 

Erina, selama berteman, kita menemukan banyak perbedaan dan persamaan. Kita jadi partner in crime, comerade yang hampir sulit dipisahkan. Hampir tiada hari tanpa tawa bersamamu. Kita pun jadi duo yang sering diandalkan untuk bikin ngakak ruangan. Kesempatan berharga ini akan jadi salah satu harta terbaik yang kusimpan.

Apapun tentangmu, bagiku effortless. Kamu tak pernah berusaha jadi orang lain untuk mendapatkan pengakuan yang pantas kamu dapatkan. Setiap keunikanmu yang tiada dua justru jadi daya tarik bagi siapa saja.

Erina, sebagai rekan kerja dan pimpinan, selama ini kamu telah mewariskan begitu banyak ilmu dan insight bagiku. Aku berkembang pesat dengan bimbinganmu. Tak terungkapkan rasa terima kasihku padamu. Walau brilian, kamu tak pernah pelit ilmu dan selalu menginspirasi. Meski jarang mengekspresikannya, aku tahu dari lubuk hati terdalam kamu sangat sayang dan peduli dengan tim Hype.

Aku rindu tawamu, gaya bicaramu, gerak-gerik lucumu, celotehan out of the box-mu. Aku rindu fangirling bersamamu. Sampai kita ketemu lagi kelak Erina, ingatlah aku sayang padamu, Sahabatku.

Indra Zakaria

29 Agustus 2016 aku pikir satu-satunya karyawan yang bakal gabung di IDN Times. Sdah takut saja, tapi ternyata ada sosok kamu yang ikutan markir motor di depan C2. Saat masuk ruang meeting bertemu denham Pak Awal, baru sadar ternyata kita satu almamater kantor, hahaha. Semenjak itu, kamu jadi orang yang selalu aku ajak ngobrol dan makan siang di kantor.

Pagi ini aku tak menyangka bakal dengar kabar kamu meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, Mabij. Aku tidak bisa bayangkan kerja tanpa kamu, tukar ide, saling sambat sambil gibah.

Maafkan aku yang banyak salah omongan dan tingkah laku sama kamu. Kamu orang baik, banyak banget yang sayang sama kamu. Makasih sudah jadi teman yang sangat-sangat baik buat aku. Kamu pasti akan jadi salah satu bidadari surga, sama seperti guyonan kita kalau di kantor semasa kamu masih hidup.

Zahrotustianah

Dear Erina, tidak pernah terbayangkan kalau chat Minggu kemarin jadi chat yang terakhir aku baca dari kamu. Tak pernah terpikirkan kalau Rabu lalu jadi hari terakhir kita piket bersama. Kamu pergi, bahkan sebelum kita bertatap muka.

Sejak awal ngobrol sama kamu, aku tahu, kamu begitu berdedikasi, penuh ide, visi, dan mimpi untuk Hype. Aku masih ingat rentetan pertanyaan yang kamu tanya padaku di awal wawancara. Masih tersimpan chat pertama dari kamu ketika menyambutku di hari perdana. Banyak rencana kita yang belum terlaksana, banyak mimpi kamu yang belum jadi nyata. Namun kini, semoga kamu tenang di sisi-Nya.

Terima kasih, Erina, sudah membimbing dan menemaniku beradaptasi di lingkungan yang baru ini. Terima kasih karena kamu sudah bersama kami. Selamat jalan, Erina. You will always be missed.

Erfah Nanda

Banyak yang bilang Erina pendiam, mungkin sebenarnya tidak, ia hanya sedikit sulit mengekspresikan diri. Namun, itulah yang membuatorang lain peka dan melihat ke arahnya.

Suatu ketika, Erina menegurku karena buat kesalahan, ia memintaku untuk menyadari dan cari solusi sendiri. Sempat kesal karena aku bingung harus apa, tapi aku sadar bahwa Erina tengah mengajariku untuk berkembang secara mandiri.

Berkat Erina, aku bisa berada di titik ini. Ia selalu percaya bahwa aku bisa dan belajar dari kesalahan. Berkat Erina, aku bisa punya pengalaman berharga. Kepercayaan itu hampir aku kecewakan, tapi pada akhirnya, aku bisa buktikan bahwa kepercayaan Erina padaku gak salah.

Terima kasih, Erina, kebaikanmu mampu mengubah hidupku. Semoga itu jadi bekalmu menuju surga-Nya. Amin.

Muhammad Bimo Aprilianto

Mbak Erina, kita memang belum pernah bertatap muka secara langsung. Namun, saya sudah mendengar kehebatan Mbak Erina bahkan sejak di kantor saya yang lama, sebelum bergabung dengan IDN Times.

Mendengar kabar berada di divisi yang sama dengan Mbak Erina bikin saya senang, walau tak sekantor. Terima kasih banyak atas bimbingannya, kerja sama dan kebaikannya selama ini.

Mbak Erina orang yang baik. Selalu memberi arahan yang membantu, tak pernah memaksa, apalagi marah-marah. Di luar pekerjaan, aku yakin Mbak Erina orangnya sangat menyenangkan.

Selamat beristirahat. We will miss you.

Prilla Sherly

Kesan pertamaku saat bertemu Kak Erina adalah ternyata ada orang dengan suara yang lucu begini di dunia ini. Setelah itu, hari-hariku di kantor diwarnai dengan candaan Kak Erina dengan teman-teman lainnya yang bikin lebih berwarna. Sayangnya, pagi ini, Kak Erina telah berpulang ke sisi Tuhan Yang Maha Esa. Meski tak mengenal dengan dekat, tetapi kami semua tahu betapa baiknya Kak Erina. Selamat jalan, see you on the other side, Kak!

Nena Zakiah

Erina Wardoyo (Mamaji) was a cheerful and kind-hearted person. We might not talk much, but I knew her heart was as pure as gold. Mamaji bisa mengubah ruangan kantor yang hening menjadi riuh karena celotehnya. Gaya bicaranya yang centil sulit ditiru orang lain dan tak tergantikan. Sayang sekali Mamaji pergi terlalu cepat, padahal belum sempat menimba ilmu darinya tentang seluk-beluk dunia foodies atau bercerita tentang tanah asal kami, Tulungagung. Rest easy, you will be missed.

Arifina Saraswati

Erina, terima kasih banyak sudah jadi pencerah hari-hari kami saat bekerja. Meski kadang sama-sama stres, tapi kamu yang selalu berhasil bikin suasana gelap jadi ceria lagi. Kami akan selalu ingat hal-hal baik itu, Er. Kami enggak akan pernah lupa. Kami pasti selalu merindukanmu. Mohon maaf, ya, Er, kalau aku pernah bikin kamu kesal. Aku belajar banyak dari kamu tentang passion, menjalani hidup yang gak grusa-grusu, rendah hati, dan tetap semangat saat kondisi sulit. Terima kasih atas semua kebaikanmu. Istirahat yang tenang, ya.

Naufal

Kantor Surabaya tak akan lengkap tanpa adanya Kak Erina, atau yang biasa dipanggil Mamaji. Suara ceria nan manja khasnya selalu berhasil membuat seisi ruangan tertawa. Meski jarang ngobrol, aku tahu Mamaji adalah sosok yang baik dan pekerja keras. Masih ingat betul saat Mamaji bantu aku yang kebingungan memilih menu saat outing pertamaku sebagai Timmy. Mamaji, semoga tenang di sisi-Nya, ya. You’ll be missed ????

Irma

Badan saya gemetaran dan tak sadar air mata ini jatuh juga ketika mendengar kabar meninggalnya Erina Wardoyo. Saya yakin hampir semua karyawan sangat shock mendengar kabar ini dan tidak ada yang menyangka jika Mamaji, sapaan akrab kami untuk Erina, meninggal dalam waktu yang cepat.

Saya masih ingat betul bagaimana gaya bicaranya. Suaranya terus terngiang-ngiang di kepala ketika dia berbicara dengan gaya khasnya yang cute dan manja. Saya juga masih ingat bagaimana dia membagikan foto saya yang tertidur ketika acara TTF sedang berlangsung. Itu jepretan foto dia sendiri.

Tiga hari lalu, tepatnya 19 Februari 2021, saya ternyata mengirim chat WhatsApp ke Mamaji dan pukul 16.34 WITA merupakan waktu balasan chat terakhir darinya. Saya bertanya soal artikel dan ia hanya menjawab satu kalimat saja. Setelah itu tidak ada balasan lagi.

Mamaji. Erina. Semua sepakat bahwa kamu orang baik, sabar, dan menyenangkan. Semoga kebaikan, support, dan ilmu-ilmu yang sudah kamu bagikan kepada teman-teman dapat mengantarmu ke tempat yang layak. Terima kasih Mamaji. Tenanglah di sana.

Edwin

Kalau boleh jujur, aku bukan teman dekat Erina. Meski begitu, berita bahwa kamu telah berpulang mengejutkanku. Aku sempat tak percaya. Aku bahkan harus membaca berkali-kali tulisan yang mengabarkan bahwa kamu telah tiada. Aku shock, sampai tak bisa berkata apa-apa hingga saat ini. Bagiku, kamu seperti mentor ketika aku membantumu mengedit di kanal Hype. Sekarang karena kamu telah pergi, tak ada lagi yang tiba-tiba meminta Dumdum ke Bos Jali (Ernia). Terima kasih untuk semuanya, semoga kamu diterima di sisi-Nya. Semoga seluruh amalan ibadahmu diterima oleh Allah SWT. Selama jalan Erina. Baik-baik, ya, di sana. 

Izza

Jadi anak baru di IDN, aku duduk sebelahan dengan Kak Erina atau Mamaji. Awalnya, aku kira beliau adalah orang yang pendiam, tapi ternyata jauh dari itu. Mamaji gak pernah gagal buat menghidupkan suasana kantor dengan celotehan dan komentarnya yang khas.  

Walaupun aku gak kenal dekat dengan beliau, aku tahu Mamaji orangnya sangat ramah. Sering ajak aku yang masih anak baru ini ngobrol, dibercandain, dan nawarin beli makaroni. Beliau juga sangat peduli dengan orang di sekitarnya, baik banget, dan pekerja keras. Aku yakin semua orang tahu itu.

Banyak banget yang sayang dengan Mamaji. Semoga tenang di sana, semoga husnul khotimah, dan diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Kantor akan beda banget tanpa Mamaji.

Bayu DW

Erina itu sosok kawan yang luar biasa. Bersama dia, obrolan gak akan ada lelahnya, karena saya bisa jadi diri apa adanya. Di balik kepribadiannya yang lovey-dovey, dia kawan yang bijaksana, selalu bisa memberikan nasehat yang menenangkan, menyemangati, dan mengapresiasi, utamanya tertulis melalui chat karena memang ia lebih bebas berekspresi secara tulis.

Dia banyak mengajarkan saya yang baru di media ini tentang seluk beluk media dan cara membuat konten agar punya performa bagus. Apapun yang ia ketahui, ia tak pernah pelit ilmu. Gaya bercandanya pun bisa membuat semua orang terbahak-bahak, jika sudah mengenalnya. Gaya santai, apa adanya, dan tingkahnya yang lucu selalu dirindukan. Banyak orang mengenalnya sebagai pendiam, padahal ia selalu bisa mencairkan suasana jika sudah akrab. We will miss you, Erina. I will. Rest in love.

Pinka Wima

Hai Erina, sudah gak merasakan sakit, 'kan, sekarang? Kami sayang kamu, tapi Tuhan lebih sayang. Terima kasih ya, Er, dari kamu, aku belajar untuk lebih menikmati hidup dan menomorsatukan keluarga.

Maaf kalau selama kita kenal 4 tahun ini aku punya salah sama kamu. Terima kasih juga untuk nasehat dan candamu yang selalu bikin hati hangat. Terima kasih kita pernah bersimpangan jalan dan berteman. Aku gak pernah ngomong langsung ke kamu, tapi aku selalu salut sama kreativitasmu, kerja kerasmu, dan rasa sayangmu ke adik-adikmu dan keluarga. Selamat istirahat ya, Erina. Kami semua bakal rindu. Kalau kami lagi kangen banget, maen-maen ke mimpi kami, ya.

Dewi Suci

Beb, thank you, ya, ilmu dan energi positif yang kamu tebarkan selama ini. Meski sampai sekarang, aku masih meraba-raba ini mimpi atau nyata. Namun, nyatanya memang begini. Pilu dan linglung rasanya.

Buat aku, kamu partner terbaik, Er. Tempatku bertanya ini itu dan kamu selalu saja punya ide-ide yang jenius. Beristirahatlah dengan tenang, semoga segala amal baikmu menjadi penerang untuk jalanmu yang lapang. So long, Erina, love you!

Rosa

Aku masuk IDN Times tahun 2016 dan Erina adalah salah satu yang paling awal aku kenal. Pertama, aku kira dia pendiam banget. Setelah beberapa lama, ternyata Erina adalah mood maker dengan segala celetukan random bernada centil. You made everyone laugh with your jokes. You were special. Now, rest in peace, Erina. You will be missed forever.

Fajar Ardiansyah

Sejak pertama bergabung di IDN Times pada 2018 lalu, aku tak begitu mengenal Mbak Erina. Yang aku ketahui, dia adalah figur yang lucu. Guyonan dengan nada-nada manja kerap kali mewarnai rapat editorial IDN Times Surabaya. Menurutku, tiap orang yang mengenalnya tak akan melupakan momen-momen bersama Mbak Erina. Sekarang Mbak Erina sudah sejahtera. Hibur semua para penghuni surga, ya, Mbak.

Abraham

Halo Mbak Erina, terima kasih sudah menjadi editor pertamaku di IDN Times. Aku tahu, aku cuma dipegang sama Mbak Erina dalam kurun waktu beberapa bulan saja. Tapi, setidaknya, aku sudah dikasih kesempatan yang sangat besar untuk menulis yang aku suka sekaligus diberi wejangan yang baik buatku. Kamu juga lucu, hahaha. 

Jujur, ini kabar yang mengejutkan karena secara mendadak Mbak Erina pergi selamanya. Aku tidak tahu harus ngomong apa. Mungkin seperti ini, ya: semoga perjalanan ke sana menyenangkan ya, Mbak. Bye-bye...

Ernia Karina

Dear Erina Wardoyo, kurang lebih 5 tahun lamanya kita kerja bareng. Dari yang awalnya aku kenal kamu sebagai orang yang pemalu, sampai aku menyadari justru kamu adalah orang yang sangat percaya diri dan independen. Kamu tak banyak gaya, tapi kontribusimu luar biasa. Banyak yang bilang “IDN Times tidak bakal bisa sebesar ini kalau gak ada Erina”. Mungkin dulu kita lontarkan kalimat itu hanya sebagai gurauan, namun itu adalah sebuah fakta yang tak terelakkan.

Erina, jasamu begitu besar bagi kami semua. Meski kini kau tiada, buah karyamu akan selamanya jadi manfaat bagi jutaan orang. Keunikan dan juga kreativitasmu adalah teladan bagi kita semua. Begitu singkat perjalanan kita sebagai rekan kerja dan juga kawan, tapi begitu berkesan. Tawa dan cara bicaramu yang lugu adalah candu bagi kita semua. Rapat mingguan tak akan lagi sama tanpamu, Erina. Terima kasih atas segalanya. Selamanya kami akan merindukanmu. Bahagialah di sana. Sampai kita berjumpa kembali, Erina Wardoyo.

Merry Wulan

Dear Erina, ada sesuatu yang pasti, namun sebagai manusia selalu tidak siap menerimanya. Sekarang, kamu telah menepati panggilan-Nya. Mengenalmu, selalu mengingatkan tentang gelak tawa. Tanpa perlu bertingkah konyol, setiap perkataan yang terlontar selalu membuatku dan kami semua terhibur. Sosok yang tidak akan pernah terlupa, selalu terdepan dalam informasi hiburan dan trending.

Erina yang kukenal adalah sosok baik hati sebagai teman, inovatif, dan berdedikasi dalam pekerjaan. Kamu dengan segala kekurangan dan kelebihan yang ada akan selalu terus kuingat sebagai rangkaian kenangan indah. 

Selamat jalan, Erina, semoga jalanmu dimudahkan.

Febrianti Dwi K

Halo Mamaji, aku tahu bahwa kematian akan terjadi pada setiap orang. Namun, aku tidak menyangka bahwa kamu pergi lebih dulu. 

Dan selayaknya saat kepergian seorang teman terjadi, aku pun syok dan menangis ketika mengalaminya. Apalagi saat melihat barang-barangmu yang masih tertinggal di kosan kita. 

Selamat jalan, Mamaji, terima kasih sudah menjadi teman yang membawa tawa dalam ruangan editorial, terima kasih sudah sering nge-tag aku kalau nemu yang lucu dan ganteng di TikTok, terima kasih sudah kasih aku tteobokki di kulkas kos-kosan sebelum kamu balik ke Tulungagung, dan banyak terima kasih untuk semua hal menyenangkan yang kamu lakukan. 

Kamu akan selalu dirindukan, Mamaji.

Faiz Nasrillah

"Er, mau ke mana kok buru-buru?" Biasanya pertanyaan itu saya sampaikan saat Erina pulang duluan. Maklum, Erina adalah salah satu Timmy yang selalu pulang paling malam. Pertanyaan serupa sebenarnya ingin saya sampaikan saat tahu bahwa dia hari ini "pulang" lebih cepat. Tapi, takdir Tuhan tak pernah mengenal kata buru-buru. Ya sudah, Er, kami ikhlas. Toh, kematian cuma perkara urutan.

Febriyanti Revitasari

Senin ini, langit Jakarta sudah tak lagi mendung. Berita banjir beberapa hari lalu sudah mulai menghilang perlahan. Tapi, lain dengan hatiku dan suasana pagiku. Kelabu. Erina Wardoyo, salah satu rekan kerja terbaikku telah tiada.

Tubuhku terasa lunglai. Lemas. Entah kenapa hatiku terasa hancur. Batinku terus-terusan berharap ini sebuah kebohongan. Gak mungkin secepat ini!

Sebelum aku bekerja di IDN Times, jujur Erina adalah salah satu penulis hiburan idolaku. Entah mengapa, judul-judulnya selalu berhasil membuatku membuka artikelnya dan merasa puas di akhir poin. Bukan cuma aku, rupanya temanku yang nun jauh di sana mengidolakannya.

Erina adalah pemantikku ketika aku masih pendatang di Surabaya. Dengan pengalamannya bekerja di Yogyakarta, ia membuatku bisa perlahan-lahan membaur.

Erina mungkin pendiam. Tapi, dalam kediamannya, dia perhatian dan punya pemikiran bijaksana. Ia tidak memihak ke sisinya saja dan tidak berpikir untuk keuntungannya saja.

Di jam-jam tertentu pada hari kerja, aku bahagia mendengar suaranya bersahut-sahutan dengan Kak Indra, Danty, dan yang lain. Aku dan kawan-kawan benar-benar tertawa bahagia.

Erina juga sosok yang sangat mencintai keluarganya. Teringat suatu hari, ia meminta bantuanku agar adiknya bisa menginap di kosku sebelum pergi menonton konser. Bukan hanya itu, ayah, ibu, dan adiknya selalu ia bahagiakan dengan caranya sendiri. Bisa jadi, aku ini iri ingin jadi adik dari anak tertua yang seperti dia.

Erina, sekarang kamu sudah tiada. Aku masih tidak percaya harus tak mendengar lagi candaan-candaan mood maker darimu. Namun, namamu akan selalu abadi Erina. Terima kasih sudah memberi warna dalam hidup kami. Semoga jalanmu dilapangkan, Er ????????????

Nurhalimah R Barus

Erina, orang bilang sahabat baik itu rezeki, maka aku orang yang diselimuti berkah Tuhan karena kenal kamu. Erina, orang bilang kesempatan baik itu emas, maka aku orang paling kaya karena kamu buka kesempatan yang luas untukku coba hal baru selama kerja bareng kamu. 

Erina, kalau tulisan jadi wujud duka cita, maka air mata jadi penaku hari ini. Erina, rasanya baru kemarin kamu ajari aku cara buat judul artikel yang menarik, rasanya baru kemarin kamu sulap tulisanku yang berantakan bertabur typo menjadi layak publish, rasanya baru kemarin kamu kasih dukungan aku eksplor buat asah kemampuanku di PR, rasanya baru kemarin kamu ajak aku nulis lagi lagi, rasanya baru kemarin kita cerita bersama mimpi-mimpi kita liburan bareng, bahagiakan keluarga, sambat insecurity dalam diri, rasanya baru kemarin kamu menyapa aku, anak rantau dari Bogor yang tiba-tiba ada di Surabaya.

Erina, masih banyak hal yang ingin aku bagi sama kamu, masih banyak konser yang pingin aku saksikan sama kamu, masih banyak destinasi yang ingin aku kunjungi sama kamu, masih banyak makanan yang ingin aku cicipin sama kamu. Dunia terlalu dingin, Er. Biar Tuhan yang dekap kamu sehangat-hangatnya di sana. Selamat jalan, Erina... Kamu selalu di sini, di hati kami.

Aprilia Nurohmah

Gak percaya rasanya, Mbak Erina, dengan kabar di grup kerjaan pagi Ini. Kabar itu datang dari Andi Rosita, salah atau sahabat kita juga sejak kerja di media Jogja sejak 2015.

Sis Erina, begitu aku menyapamu, adalah orang yang paling rajin ngajakin pindah kerja ke IDN Media, hingga akhirnya aku pun menyusul kamu kerja disana walau aku hanya kontributor. Tapi, berkat kamu, aku ketemu sama Pak Winston, bergabung dalam tim dan perusahaan yang menurutku hebat.

Sis Erina, kamu gak pelit ilmu, kamu selalu berbagi pengalaman dan pelajaran. Kamu sosok yang kerja keras, bahkan jadi guruku untuk menulis hingga iseng bikin akun kuliner seperti kuliner Tulungagung yang kini sudah jadi sangat besar. Terimakasih, ya, Sis, kamu banyak menginspirasi. Kita memang sudah lama banget gak ketemu, tapi tiap hari pasti komunikasi di chat WA, walau hanya sekadar bahas kerjaan atau berita artis terbaru.

Sis, bahagia di surga, ya, Tuhan lebih sayang sama kamu, Tuhan mengundang kamu buat nonton konser Kang Daniel dari atas sana. Terima kasih sekali lagi, Mbak Erina. We love you.

Rosita

November 2017, mendiang saat itu setahun setengah menjadi editor di IDN Times. Saya masih ingat hari di mana Erina menawari saya untuk menjadi freelancer content writer di IDN Times. Sebenarnya, tidak mudah membagi waktu antara pekerjaan tetap sebagai engineer dan menjadi freelencer. Namun, ini karena Erina, maka saya memutuskan untuk menerima pekerjaan ini. Bekerja dengan orang yang passionate dan sekaligus teman baikku tidak akan membuat stres, pikirku saat itu, dan sampai akhir hayat Erina, saya tidak pernah menyesali keputusan itu. Bahkan, itu menjadi keputusan terbaik yang pernah saya ambil. Kami pernah memiliki impian seperti apa seharusnya konten hiburan didistribusikan dengan menyenangkan ketika berada di kantor yang sama dan harapan itu sedikit demi sedikit mulai terwujud ketika ia bergabung di IDN Times.

“Saya hanya akan menulis apa yang sama mau dan saya suka,” ujarku sebagai perjanjian tak tertulis dengan Erina sebelum tanda tangan kontrak.

“Tentu, anggap saja bergosip sambil dibayar, Sis, saya janji tidak akan menyuruh sesuatu yang gak kamu suka,” tulis Erina lewat pesan WhatApps. Janji itu ditepati mendiang hingga tutup usia.

Namanya pekerjaan tentu tak selamanya berjalan dengan baik. Erina tipe editor yang pasif-agresif, dia jarang melempar ide di grup dengan menggunakan kata perintah untuk menyuruh menulis.

“Ini ,kok, bisa gini, ya, artis ini. Ya aampun, grup itu comeback, MV-nya gimana, ya?” Jika membaca kalimat ini, yang pernah bekerja dengan Erina pasti segera paham artinya. Intinya, kami harus segera menulis topik demikian. Hahaha, kadang ini menyebalkan karena gak langsung to the point. Erina sosok introvert yang malas basa-basi, namun sungkan bila menyuruh orang lain. Dia bahkan berpikir lama saat membalas chat untuk sekadar menuliskan ok, okay, atau sip, agar tak dikira judes.

Erina adalah mentor yang tak pernah menggurui. Saya belajar banyak cara mengembangkan ide tulisan dan liputan konser darinya. Kami sering sama-sama mengeluhkan kerjaan, Erina kadang kesal dengan OKR yang semakin meningkat, namun di hari yang sama, dia editor yang tidur larut malam dan menenuhi OKR-nya di atas rata-rata. Ada kalanya mendiang merasa lelah, namun ia tak pernah berpikir untuk berhenti. Kecintaannya terhadap profesi sangat menginspirasi saya secara pribadi dan profesional.

Semua yang bernyawa pasti akan berpulang, kita sama-sama mengamini hal itu. Namun, hari ini, 22 Februari 2021, 9:58 WITA, meski langit Makassar cerah, tapi saya tetap banjir air mata, Er.

“Impianku cuma satu, Sis, liputan ke Korea Selatan,” ceritamu 2017 lalu. Syukurlah Er, kamu sudah pernah merasakan menjalani mimpimu yang jadi kenyataan.

Kita beberapa kali menuliskan artikel duka kehilangan dunia hiburan yang juga membuat kita sedih, namun rasanya hari ini kesedihan itu berlipat ganda. Saya kehilangan sahabat, rekan kerja, dan bahkan sosok kakak yang selama ini menampung segala keluh kesah. Kita pernah sama-sama menuliskan obituari untuk rekan kerja kita 2015 lalu dan hari ini saya menuliskan satu untukmu. Beristirahat dalam damai, Sis Er, terang jalanmu pulang. Karyamu abadi.

Nafilah

Saya sedang menyusui anak saya yang baru berumur satu bulan lebih satu minggu ketika kabar kepergian itu datang. Rasanya mendadak lemas, masih tidak percaya. Ini benar Mbak Erina? Mbak Erina yang beberapa hari lalu bahkan masih mengedit artikelku?

Sudah sejak tahun 2015 mengenal Mbak Erina. Mbak Erina adalah orang pertama yang mengajari saya menulis artikel seleb, mencari ide-ide untuk artikel seleb, dan sesekali mengkritik tulisanku. Rasanya baru beberapa hari lalu, kami berboncengan dengan motor bututnya di daerah Warung Boto, Jogja, mencari makan bersama. Mbak Erina yang sangat takut pada kucing itu adalah salah satu yang terbaik di bidangnya.

Kabar kematian ini seperti mendung yang entah kapan bisa akan lewat. Grup WhatsApp penulis freelancer seleb IDN Times pasti tak akan pernah sama lagi. Rasanya bahkan kehabisan kata-kata untuk menulis tentang bagaimana saya memahami kepergiannya yang terasa begitu mendadak.

Mbak Erina yang baik hati, selamat jalan. Terima kasih atas ilmu-ilmu dan kebaikanmu di dunia. Terang jalanmu pulang, Mbak. Salam sayang dan rindu selalu.

Aulia Supintou

Halo Mbak Erina, setelah mendengar kabar duka yang teman-teman sampaikan, antara percaya dan tidak percaya. Sosok Mbak Erina yang selama ini aku kenal, tiba-tiba muncul di dalam pikiranku bagaikan montase.

Jujur, aku tidak menyangka kalau awal pertemuan kita di akhir Oktober 2019, bisa membawaku sampai saat ini. Berkat Mbak Erina, aku bisa mendapatkan ilmu, pengalaman, dan teman-teman baru.

Apa yang aku capai saat ini, tentu tidak lepas dari kontribusi Mbak Erina, mentor sekaligus editorku saat ini. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana Mbak Erina bisa membuat sebuah tulisan simpel menjadi sangat menyenangkan untuk dinikmati?

Membaca setiap suntingan artikelku di IDN Times, selalu membuatku terpacu untuk bisa lebih baik lagi. Meski jarang berdiskusi secara langsung, sangat banyak ilmu dan pengalaman yang aku petik dari suntingan Mbak Erina.

Terima kasih karena selama ini Mbak Erina sudah percaya dan mau memberikan kesempatan berharga untukku. Menurutku, Mbak Erina adalah salah satu sosok yang membantuku hingga aku seperti saat ini.

Selama tiga bulan di kantor dan hampir setiap hari melihat Mbak Erina. Aku tahu, Mbak adalah sosok yang ceria dan disukai setiap orang. Kehilangan sosok humoris dan pembangkit suasana tentunya menjadi luka terdalam bagi semuanya.

Sekali lagi, terima kasih untuk semuanya. Maaf jika aku ada salah selama ini. Terima kasih sudah bertahan selama ini. Semoga Mbak Erina tenang di sana. Semoga doa yang baik selalu mengiringi langkah Mbak di sana, Aamiin.

Romdlon Adi

Saya mengenal Erina sejak tahu 2015. Ia sosok yang penuh dengan inspirasi dan pekerja keras. Saya masih ingat bagaimana ia bercerita perjuangannya pertama kali bisa menonton konser boyband saat ia masih mahasiswa. Saya juga ingat bagaimana Erina yang hobi kuliner mampu merintis akun Instagram kuliner hingga menjadi yang nomor satu di Tulungagung.

Saya menganggap Erina lah salah satu pioner penulisan artikel seleb yang banyak diadopsi oleh para penulis lain. Ide-ide yang tak terpikirkan oleh penulis lain bisa ia munculkan dan ditulis dengan renyah. Buktinya, tak terhitung tulisannya yang mampu menembus jutaan viewers.

Dari dialah saya belajar banyak tentang kepenulisan dengan target pembaca generasi Z. Erina, ide dan kerja kerasmu akan terus jadi inspirasi bagi sahabat-sahabatmu. Banyak sahabat yang merasa kehilangan menandakan Erina banyak menebar kebaikan semasa hidupnya. Selamat jalan, Erina.

Defrina

Bingung harus mulai dari mana. Rasanya terkejut dan tak ingin percaya, tapi air mata ini terlanjur mengalir.

Kami adalah teman seangkatan saat kuliah tahun 2009. Dia adalah salah satu sahabat terdekat. Walaupun aku sempat pindah jurusan, kami tetap bertukar kabar. Kami bercerita tentang zaman sekolah, cinta masa muda, sampai hal ringan seperti artis Indonesia hingga K-Pop.

Aku sering menghabiskan bonus SMS gratisku dengan Erina sebelum kami menggunakan WhatsApp/Twitter/Instagram.

Erina termasuk teman yang sering kali menerima chat random saya, apapun topiknya. Dua tahun belakangan, kami berhubungan soal pekerjaan.

Kami sudah setahun tak bertemu sejak pandemik menghantam. Di kepala, rasanya ada banyak yang ingin kuceritakan kalau nanti bertemu. Setidaknya, aku pengin cerita kalau aku baru saja beli album terbaru Baekhyun EXO. Tak apa, ya, pamer? Toh, Erina memberiku bingkisan K-Pop di hari ulang tahunku akhir Desember lalu.

Erina juga pernah dua kali memintaku untuk memberinya standee G-Dragon BigBang ketika dia menikah nanti. Aku dengan senang hati menyanggupinya.

Namun, takdir berkata lain.

Waktumu di dunia mungkin telah terhenti, tapi sungguh, amal ibadahmu akan terus mengalir.

Selamat jalan, Erina. Matur nuwun sanget.

Dini Suci

Syok saat mendengar salah rekan meninggalkan kami selamanya Saya memang belum mengenal dekat dengan Kak Erina dengan baik, namun saya beberapa kali bercakap di meeting pot. Erina orang yang baik, smart, dan ramah. Saya terkejut sedih, bahkan gemetar mendengar berita kematiannya di tengah pandemik ini. Hampir semua teman tidak bisa menyembunyikan kesedihan kehilanganmu, Kak. Kamu orang baik. Selamat Jalan Kak Erina, tempat terbaik untuk kamu.

Dwifantya Aquina

Dear Mamaji, sudah lama, ya, kita tak bertemu, tapi terakhir masih denger suara Mamaji waktu rapat virtual dua pekan lalu. Sampai kabar duka itu datang pagi ini, masih setengah gak percaya dan berharap kabar itu salah.

Mamaji, kita ketemu pertama kali di Palmerah, ya, Barus bilang Mamaji editor Hype andalannya IDN Times, tak heran, sih, memang banyak banget yang bilang kalo Mamaji passion banget sama pekerjaannya. Tiap hari di Palmerah ada aja bercandaannya sama Mamaji, tiap hari kita pasti jajan, kalo gak Boba, ya makaroni pedas.

Mamaji, pasti banyak yang kangen sama kamu, banyak juga yang akan mendoakan, karena kenangan baik tentang Mamaji terlalu banyak dan tak mungkin kita lupakan. Istirahat yang tenang, Mamaji.

Santi Dewi

Aku kenal Erina dari dekat, ketika ia melakukan program exchange dari Surabaya ke Jakarta selama beberapa bulan. Waktu itu kantor IDN Media masih di Palmerah, Jakarta Barat. Dari Erina, aku jadi banyak tahu informasi soal dunia selebriti dan hiburan sesuai dengan fokus tulisannya di IDN Times. Informasi dari Erina sering jadi oase kalau udah pening "ngurusin negara" melalui news. Kerja pun jadi lebih semangat. 

Dari Erina, aku malah jadi tahu tempat jajanan snack yang belum pernah aku coba di sekitar Palmerah. Dia benar-benar jadi andalan kalau kasih rekomendasi soal kuliner. Erina juga yang cerita kalau dia dan teman-temannya buat akun IG khusus yang ngebahas soal kuliner di Tulunagung. Sayang, belum punya waktu mampir ke sana. 

Selamat jalan, Erina. Kamu orang baik dan pantas mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya. Amin.

Putri Restu

Rasanya tak percaya saat mendengar kabar dirimu sudah pergi untuk selama-lamanya, Kak! Berharap kabar ini tak benar ☹ Beruntung banget, aku pernah bertemu dan mengenal baik tentangmu, Kak. Pertemuan pertama kita di Surabaya, 'kan, Kak, tapi saat itu waktunya tidak banyak. Senang banget saat aku tahu kalau kamu akan exchange dari Surabaya ke Jakarta, saat itulah kita banyak ngobrol satu sama lainnya.

Menurutku, kamu adalah orang yang sangat baik, smart, ramah, lucu, apa adanya, humoris dan sangat menginspirasi. Ingat gak, Kak, kita suka GoFood Makaroni Ngehe dan boba-bobaan?

Kak Er, semua kehilangan dirimu, kamu sudah memberikan kenangan manis untuk kita semuanya! Selamat jalan, Kak Er, Allah akan memberikan tempat terbaik untukmu! Percayalah, kami selalu merindukanmu, Kak!

Sunariyah

Aku mengenangmu secara langsung di Palmerah, di kantor IDN Media yang dulu. Begitu bertemu langsung terasa akrab, aku ingat kita beli bakso dan menyeberang ke Indomaret samping kantor untuk sekadar membeli camilan di sore hari sambil melepas penat. Mamaji, begitu panggilan akrabmu Erina, tawa renyah dan candaan-candaanmu seperti oase, selalu membuat cair suasana.

Namun, Allah Yang Maha Kuasa begitu menyayangimu, memanggilmu lebih cepat, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan kesalahanmu, menerima segala amal kebaikanmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.