Tak Hanya Makanan, Lestarikan Juga Minuman Tradisional Indonesia yang Kaya Khasiat

Amelia Rosary Dewi | 3 December 2020

Bukan hal yang mudah mengubah paradigma masyarakat soal jamu yang biasanya lekat dengan minuman orang tua, kuno, dan pahit. Berkat kegigihan dan kesabaran Nova Dewi Setiabudi, CEO PT Suwe Ora Jamu Amertha, perlahan minuman herbal ini mulai digemari sejak disajikan di kafe Suwe Ora Jamu yang didirikannya pada tahun 2009 lalu. Pada hari kedua Indonesia Memasak by Yummy, Nova membagikan kisahnya saat pertama kali merintis bisnis yang terbilang unik tersebut.

1. Awal mula memilih bisnis jamu

Ketika semua orang beralih untuk menekuni bisnis minuman modern, seperti es kopi atau boba, tekad Nova untuk fokus pada bisnis jamu tradisional malah semakin bulat. “Di tahun 2009, saat saya sedang di Jakarta, saya bermaksud untuk minum jamu. Karena jamu identik dengan peredam rasa sakit saat menstruasi, saya dikira sedang mens. Padahal, jamu tidak melulu untuk perempuan yang sedang mens. Rupanya orang-orang di Jakarta saat itu masih belum familiar dengan khasiat jamu,” terangnya.

Sebagai Ibu Kota Indonesia yang sibuk, di mana pusat perekonomian, pemerintahan, dan kultur berada, Jakarta seharusnya mampu melestarikan warisan kekayaan alam一tak hanya untuk pengobatan, namun juga untuk upaya pencegahan penyakit. “Selain itu, saya dan tim saat itu juga brainstorm bersama dan menemukan bahwa jamu telah terlanjur memiliki image yang kurang baik. Misalnya, rasanya yang pahit, minuman orang tua, dan efek samping tak baik buat tubuh bila mengonsumsi terlalu banyak,” ia menjelaskan.

Mengedukasi orang-orang mengenai manfaat jamu adalah salah satu hal yang Nova lakukan. Nova melanjutkan, “Caranya adalah dengan mengombinasikan rasa jamu dengan pas agar rasanya enak, namun khasiatnya tidak berkurang. Ada asem, manis, pahit, dan pedas, ya. Seperti saat sedang pandemik seperti ini, jamu juga semakin naik permintaannya karena orang sedang berupaya keras untuk menjaga imunitas tubuh mereka.”

2. Penikmat jamu di Indonesia

Ketika ditanya mengenai potensi pasar di indonesia, Nova mengaku, “Indonesia tentu memiliki potensi yang sangat baik untuk bisnis ini. Dilihat dari populasi penduduknya, ditambah dengan kembalinya local wisdom atau heritage Indonesia di tengah hiruk-pikuk kehidupan urban. Jangan hanya fokus pada makanan tradisional karena resep jamu yang turun-temurun juga merupakan hasil kekayaan alam Indonesia. Tak hanya untuk pengobatan, tapi juga dibuat sebagai upaya preventif dan promotif一bahwa jamu itu bisa dinikmati oleh semua kalangan.”

3. Branding Suwe Ora Jamu

Suwe Ora Jamu mengenakan botol kaca untuk kemasannya. Ketika ditanya mengenai pertimbangannya, Nova mengaku, “Kami ingin merakit jembatan untuk melestarikan warisan alam Indonesia, mengenalkan jamu pada generasi yang sudah dan belum familiar dengan khasiat jamu. Untuk itu, kami menambah esensi nostalgia pada format kemasannya. Dulu, jamu dijual dengan botol kaca besar, nah, inilah yang ingin kami bawa kembali.”

Jamu memiliki filosofi tersendiri. Kata tersebut berasal dari bahasa Jawa Kuno: jampi yang berarti doa dan usada yang berarti kesehatan. “Kita pun harus meyakini bahwa apa yang kita minum ini punya esensi kebajikan dan kesehatan. Bahan-bahannya harus dipilih dengan benar, presentase takarannya, khasiatnya, it’s all about feeling and touch. Jangan lupa jaga kehigienisan saat mengolah,” kata Nova sambil mulai membuat beras kencur dan wedangan di online cooking class sore itu.

Sampai dengan 31 Desember 2020 mendatang, Indonesia Memasak by Yummy akan hadir untuk membagikan banyak inspirasi dan ilmu terkait ragam kuliner di Nusantara, sekaligus menjadi platform untuk melestarikan kuliner khas Nusantara yang begitu luar biasa. Terus ikuti rangkaian acara Indonesia Memasak by Yummy di Yummy App, akun Instagram @indonesiamemasakbyyummy atau @yummy.id, dan akun resmi Yummy di YouTube!