Vegan dan Non-Vegan Tak Ada Beda, Bila Substitusinya Pas!

Amelia Rosary Dewi | 4 December 2020

Pada hari ketiga Indonesia Memasak by Yummy, Yummy menghadirkan Max Mandias, Co-Founder Burgreens dan Annabella, digital influencer yang juga advokat vegan. Sesi siang itu dimulai dengan cerita Max tentang kisah Helga Angelina, rekan bisnisnya yang juga merupakan kekasihnya, yang sudah 10 tahun menjalani pola makan vegetarian. Rupanya, kebiasaan itu terjadi bukan semata-mata karena kecintaannya pada sayur-sayuran.

Pada usia 15 tahun, Helga divonis bermasalah dengan ginjalnya karena konsumsi obat-obatan yang terlalu sering. Oleh karana itu, Helga pun mulai menggeser pola makannya—ia menjadi seorang vegan. Dari saat itu, ia telah merasakan manfaat kesehatan dari diet vegetarian yang ia jalani. Berikut adalah beberapa poin yang Max dan Annabella sampaikan terkait "Vegan dengan Bahan Khas Indonesia".

1. Bahan dasar, penanganan produk, dan konsep Burgreens

Burgreens, sebuah singkatan dari Burger dan Greens. "Kami ingin hadir sebagai pelopor makanan yang tidak terlihat sehat, namun sebenarnya sehat. Itulah mengapa kami punya tagline 'taste naughty, get healthy', ya," ucap Max. Ia kemudian menjelaskan mengenai perbedaan vegan dan non-vegan yang terletak pada porsi proteinnya. 

"Kalau burger vegan, 'kan, proteinnya tidak dari daging, melainkan dadi tempe, jamur, kacang. Yah, intinya, konsep Burgreens adalah healthy fast food. Kebanyakan orang berpikir, kalau mau makan sehat harus menunggu lama. Nah, kami coba pecahkan pandangan ini. Selain itu, kami juga ingin jadi convenient dan visually presentable," ungkap Max. 

2. Tantangan yang dijumpai

Untuk terus dapat mengelola bisnis, pelaku bisnis juga harus mampu beradaptasi. "Misal, karena COVID-19, bisakah kita mengubah konsep makanan vegan, yang biasanya orang harus datang ke resto, menjadi layanan take home agar konsumen tetap merasa nyaman dan aman? Oleh karena itu, kami hadirkan adik Burgreens, yaitu Green Butcher yang menghadirkan menu vegan khusus take home," cerita Max. 

Selain itu, Max juga menceritakan terkait proses pengembangan menu dalam bisnisnya yang dirasa cukup menantang. "Mengembangkan menu, itu yang paling challenging. Harus fluid dan relevan, inovatif. Ini juga tergantung dari permintaan pasar seperti apa, tergantung dari hasil riset tim marketing bagaimana. Menu berkuah, dessert, wah, itu cukup menantang untuk dilakukan dengan bahan baku plant-based, sambil tetap memerhatikan nilai proteinnya," ujarnya.

3. Menu dari bahan lokal

Sebagai salah satu makanan khas Indonesia yang diolah secara khusus oleh Burgreens, maranggi tentu memerlukan beragam komposisi lokal. Menanggapi hal ini, Annabella angkat suara dan menyatakan, "Ketumbar, lengkuas, bawang putih, begitu, ya, pasti datang dari pasar lokal. Bila dipersentasekan, 95% makanan vegan itu lokal bahannya. Oleh karenanya, pemberdayaan sosial petani lokal pun terbantu."

Namun, menurut Max, "Konsumen sebenarnya tidak fokus ke hal itu. Hal pertama yang mereka percayai adalah sensory mereka. Aromanya bagaimana, rasanya. Substitusi protein dari hewani ke nabati juga harus tepat. Kalau sudah tepat, bisa dibilang vegan dan non-vegan itu tidak ada bedanya. Nanti, hal-hal lain seperti pemberdayaan sosial seperti yang Annabella sampaikan akan mengikuti dengan sendirinya."

Sampai dengan 31 Desember 2020 mendatang, Indonesia Memasak by Yummy akan hadir untuk membagikan banyak inspirasi dan ilmu terkait ragam kuliner di Nusantara, sekaligus menjadi platform untuk melestarikan kuliner khas Nusantara yang begitu luar biasa. Terus ikuti rangkaian acara Indonesia Memasak by Yummy di Yummy App, akun Instagram @indonesiamemasakbyyummy atau @yummy.id, dan akun resmi Yummy di YouTube!