Visual Speaks Louder, Ini Hal yang Wajib Fotografer Pahami

Amelia Rosary Dewi | 29 July 2020

Normal Baru menjadi lembaran baru bagi para fotografer. Setelah diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), kini mereka boleh kembali keluar rumah untuk mengabadikan banyak kejadian di luar sana. Pada kesempatan kali ini, Herka Pangaribowo, In-house Photographer IDN Media, akan membagikan sudut pandangnya mengenai fotografi setelah 12 tahun lebih menekuni dunia tersebut. Yuk, kita simak!

1. Bagaimana pilih aliran fotografi?

 

Menurut Herka, mempelajari seluruh genre fotografi yang ada, seperti documentary, produk, atau arsitektur, bisa dibilang sebagai hal paling bijak yang seorang fotografer pemula dapat lakukan. Herka menjelaskan, “Semakin sering menggunakan kamera, semakin fasih pula pemahaman kita mengenai fotografi, tak terkecuali preferensi kita dalam menentukan objek dan aliran foto. Natural begitu saja.” Menentukan aliran fotografi yang kita suka dapat memakan cukup banyak waktu, namun fotografi memang benar-benar membutuhkan ketekunan dan konsistensi agar kemampuan teknis dan praktis dapat terus terasah seiring dengan bertambahnya jam terbang.

2. Belajar hal baru di IDN Media

 

Telah lama menggeluti bidang fotografi jurnalistik di media cetak, khususnya sebagai fotografer olahraga, Herka mengaku bahwa mengikuti perkembangan dunia digital kini telah menjadi tuntutan yang harus ia ikuti agar dapat terus berkembang. "Menariknya, setelah bekerja bertahun-tahun di media cetak sebagai jurnalis foto, sekarang saya berkesempatan untuk bekerja di IDN Media: sebuah media online, di mana saya bertugas menjadi seorang In-house Photographer. Kalau tadinya saya banyak memotret di luar ruangan, saat ini saya harus memotret berbagai detail di dalam kantor untuk kepentingan branding,” ucapnya

Herka menambahkan, “Saya jadi paham bahwa ternyata masih ada banyak hal yang dapat saya selami. Yah, bisa dibilang proses yang saya lalui harus mulai dari nol lagi. Nggak apa-apa, soalnya lingkungan kantor pun mendukung saya buat belajar hal-hal baru. Mungkin karena mayoritas Timmy (panggilan untuk staf IDN Media) adalah generasi millennial dan z, ya."

Selain itu, maraknya ekosistem digital juga kian mendukung masifnya kegiatan daring di sosial media. Hal tersebut tentu saja semakin mempermudah semua orang untuk belajar, tak terkecuali para fotografer. "Tidak ada alasan untuk berhenti belajar, sih. Sekarang semua sudah serba mudah. Fotografer yang baru belajar sekalipun bisa mencari berbagai macam referensi kapan saja, di mana saja,” terangnya, masih dengan semangat yang sama seperti 12 tahun lalu. 

3. Elemen penting dalam fotografi

 

Terkait referensi yang sebelumnya telah ia sebutkan, Herka menambahkan, “Saya pribadi percaya bahwa belajar itu prosesnya ada tiga, ATM: Amati, Tiru, Modifikasi. Kalau sudah mengamati suatu referensi, kita coba tiru dulu. Setelahnya, baru kita modifikasi, kita imbuhi signature atau ciri khas kita di situ.” Baginya, metode tersebut dapat dibilang cukup ampuh untuk mempertajam intuisi seorang fotografer dalam menangkap sebuah momen. 

Karena foto juga merupakan salah satu media yang dapat seseorang gunakan untuk menuangkan sebuah cerita di balik suatu momen, ia menambahkan, “Tidak melulu foto yang indah-indah saja, fotografi akan lebih menarik jika berangkat dari sebuah cerita di belakangnya. Ada sebuah kutipan yang menegaskan bahwa ‘visual speaks louder’, jadi jangan hanya membuat dokumentasi, buatlah cerita.”

4. Hal non teknis tambah koneksi

 

Untuk mereka yang baru akan mulai menekuni dunia fotografi, bergabung dengan berbagai komunitas, khususnya komunitas fotografi, adalah hal yang patut dipertimbangkan. “Dengan menjadi sebuah anggota komunitas fotografi, kita dapat semakin terpacu untuk mengeksplorasi banyak hal tentang fotografi. Bahkan, kita pun dapat menambah networking di situ. Hal ini tentu juga akan mempermudah kita untuk terjun ke dunia profesional fotografi. Di sisi lain, tak salah juga kalau mau gabung dengan komunitas lainnya—komunitas gerakan sosial, misal. Hitung-hitung buat perkaya networking,” ia menerangkan.

5. Pembelajaran: momen untuk siapkan amunisi

 

Bila diingat, ternyata PSBB merupakan momen yang tepat untuk mempersiapkan amunisi sebelum kembali berjuang. “Ibarat orang mau lomba lari, dimasa PSBB, kita bisa nyicil pakai sepatu dan pemanasan dulu agar saat lomba sudah hendak dimulai, kita pun telah siap. Sama halnya selama PSBB一saya mengerjakan beberapa hal yang belum sempat dikerjakan sebelum WFH, seperti membuat SOP (Standard Operating Procedure) untuk fotografer IDN Media. Kedua, yang tidak kalah penting, adalah membuat database foto kantor. Sebanyak dan sebagus apapun foto, kalau databasenya tidak ada, suatu saat akan sia-sia. Saya juga kerjakan proyek buku interior kantor yang memang akan lebih efektif dan efisien bila dikerjakan saat kantor masih sepi,” tutupnya.

Kejadian seperti ini tentu dapat menjadi pembelajaran bagi kita: masih ada beberapa hal fundamental yang dapat kita persiapkan ketika segala sesuatunya terasa tak mungkin dilakukan. Dengan pola ini, semoga kita dapat lebih siap dan tanggap dalam menghadapi tantangan di masa depan, ya!