top of page

Timmy’s Story: Lingkungan Kerja yang Toxic Sudah Tidak Relevan!

15 Sep 21 | 16:41

Amelia Rosary

Menciptakan lingkungan kerja yang inklusif

Timmy’s Story: Lingkungan Kerja yang Toxic Sudah Tidak Relevan!

Tulisan ini dibuat oleh Ridho Illahi dari tim Audience Development untuk program Timmy's Story


Lingkungan kerja yang toxic. Duh! Membayangkannya saja rasanya sudah tidak nyaman, ya? Kerja jadi tidak fokus karena masih harus memikirkan drama yang terjadi di lingkungan kerja. Siapa, sih, yang mau? Mayoritas dari kita tentu ingin bekerja di perusahaan yang menjunjung tinggi kultur kolaboratif dan suportifーbukan yang sedikit-sedikit digosipin.


Kalau saya boleh berpendapat, budaya kerja yang seperti itu sudah ngga zaman, alias konservatif. Oleh karenanya, saya secara pribadi percaya bahwa paling tidak ada lima hal yang kita masing-masing harus terapkan untuk mewujudkan lingkungan kerja yang kolaboratif dan suportif, di mana setiap orang dapat merasa diterima dan dilibatkan. 


1. Memberi simpati 

Setiap harinya, kita menghabiskan sebagian besar waktu kita di kantor. Bayangkan apabila kita tidak menjalaninya dengan suka cita! Wah, pasti tidak nyaman, ya? Namun, sebelum berharap agar rekan kerja kita dapat memperlakukan kita dengan baik, kita harus dapat memulainya dari diri sendiri. Coba berikan perhatian kecil kepada rekan kerja kita. Perhatian yang dimaksud tak harus berupa sesuatu yang bersifat material, kok


Ketika akan minta tolong pada mereka, misalnya, pakailah kata-kata yang baik dan simpatik. Bersikap sopanlah, mengertilah kesibukan mereka. Memang benar, sih, sikap kita pada seseorang biasanya tak lepas dari perlakuan mereka terhadap kita. Namun, bagaimana pun, menghormati dan menunjukkan simpati kita pada rekan kerja adalah salah satu hal yang dapat membangun kultur kerja yang positif dan kolaboratif. Jadi, mengapa tidak?


2. Memberikan respect, tak peduli apapun title-nya

Respect. Rasanya mudah untuk memberikan respect kita pada atasan. Namun, coba refleksikan bagaimana kita memperlakukan peer atau bahkan rekan kerja kita yang lebih junior? Krusial, tapi sering dilupakan. Apapun relasinya, kata tolong, terima kasih, dan maaf itu begitu dibutuhkan. Respect harus diaplikasikan pada siapa saja yang kita temui, tak peduli apapun title maupun role-nya. 


Respect, bagiku, juga berkaitan erat dengan boundaries yang kuat antara kehidupan personal dan profesional. Kurang “klik” dengan kepribadian rekan kerja tidak bisa dijadikan alasan untuk menghindarinya di lingkup kerja. Ketika memang diharuskan untuk bekerja bersamanya, apa lagi yang harus kita lakukan? Just do it, give respect. When it’s done, it’s done. Terkadang, ada hal-hal yang tak perlu kita komentari. Daripada memperkeruh suasana? Duh! Gosipin orang mungkin memang terkesan menggiurkan, tapi coba dibalik. Apakah kita pun mau digosipin, terlepas dari apapun kekurangan kita?


3. Komunikasi berjalan dengan baik

Pelan-pelan, ketika sudah memberikan perhatian dan hormat pada rekan kerja, kita pun akan mulai mengenal mereka secara lebih personal. Dengan demikian, kita pun dapat menyesuaikan pendekatan kita ketika hendak berkomunikasi dengan mereka. Bisa jadi orang yang awalnya terlihat jutek, ternyata punya empati yang tinggi terhadap rekan kerjanya. Dengan mengenal rekan kerja secara personal seperti ini, perlahan kita juga akan lebih leluasa untuk membicarakan apapun yang menjadi concern kita. 


Komunikasi akan terjalin dengan apik. Nah, mungkin itu kalimat pendek yang dapat menggambarkan maksud saya secara lebih tepat. Bahkan, bukan tidak mungkin kalau kita berkeluh kesah satu sama lain, menceritakan hal-hal melelahkan yang telah dihadapi setelah seharian bekerja. Eits, jangan salah. Ini tidak sama dengan spreading negative vibe, ya! Sebagai manusia, adalah wajar apabila kita merasa lelah, bosan, kesal. Emosi-emosi seperti ini bukan untuk dihindari, melainkan untuk dikelola dengan baik, sebelum akhirnya kita lepaskan pada orang yang kita percaya. Hanya saja, jangan berlarut-larut, sampai lupa kalau ada tugas utama yang harus kita kerjakan. 


4. Kepercayaan pada rekan kerja

Perlahan, rasa peduli, hormat, dan komunikasi yang baik akan membentuk kepercayaan antar rekan kerja. Menyambung poin sebelumnya, ketika seorang rekan kerja sudah mempercayakan keluh kesahnya pada kita, misalnya, kita harus bijak-bijak menjaga keluh kesah ini. Ingat, tidak semua hal harus dikomunikasikan pada siapa saja. Ada batasnya. Selain itu, dengan adanya trust, kita pun akan lebih legowo dalam memberikan tanggung jawab pada rekan kerja kita. Kita percaya bahwa mereka dapat mengerjakan apa yang diembankan pada mereka dengan benar dan baik. Dengan demikian, kolaborasi antar anggota tim dan antar departemen pun akan berjalan dengan lebih baik. 


5. Kolaborasi yang apik

Pada akhirnya, keempat poin di atas dapat membuahkan kolaborasi yang baik, bahkan fantastis! Tidak harus melulu berkaitan dengan suatu proyek, kolaborasi yang dimaksud bisa berupa kesadaran dan kemauan untuk saling membantu, tanpa harus diminta. Bayangkan vibe kekeluargaan seperti itu di tempat kerja. Wah, pasti nyaman banget, ya? 


Kalau boleh ambil case pribadi, beberapa waktu yang lalu, aku sempat mengadakan meeting dengan salah satu rekan di IDN Media. Namun, laptop tim yang sedang bertanggung jawab untuk mempresentasikan company profile IDN Media tiba-tiba eror. Tanpa diminta, apabila sense of belonging sudah terbangun, kita akan berinisiatif untuk membantu dan take over, kok. Jangan salah, sense of belonging tak hanya dapat dibangun seiring dengan berjalannya waktu saja. Ketika kita sudah nyaman dan merasa diterima di lingkungan kerja, sense of belonging itu juga akan terbentuk, bahkan meskipun kita masih terhitung sebagai karyawan baru. 


Kesimpulannya, lingkungan kerja yang tak suportif, buat saya, sudah tidak relevan lagi. Dengan generasi muda Indonesia yang semakin humanis, rasanya toxic environment sudah terkesan konservatif dan harus disudahi. Untuk mengambil bagian dari langkah baik ini, kita memang harus memulainya dari diri kita masing-masing. Adapun caranya adalah dengan membangun rasa peduli, rasa hormat, komunikasi, serta kepercayaan pada rekan kerja. Yuk, bersama ciptakan lingkungan kerja yang inklusif!


bottom of page