top of page

Anak juga Punya Ego, Ini Tips Berkomunikasi dengan Mereka

1 Oct 20 | 13:29

Amelia Rosary

Perlu banyak observasi untuk memahami karakter anak

Anak juga Punya Ego, Ini Tips Berkomunikasi dengan Mereka

Berbeda dengan cara berkomunikasi orang dewasa, anak memerlukan pendekatan khusus dalam berkomunikasi. Hal ini perlu diperhatikan agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak. Karakter dan usia mereka juga tentu menentukan metode berkomunikasi yang akan kita gunakan.


Pada Popmama Parenting Academy 2020 with Tokopedia hari ketiga ini, Lala Tangkudung, seorang Radio Broadcaster, membagikan pengalamannya dalam membangun komunikasi dengan kedua anaknya yang masih berusia balita dan pre-teen. Semoga menginspirasi dan membantu, ya!


1. Faktor penghambat komunikasi dengan anak

Saat akan memulai komunikasi dengan anak, ada beberapa faktor penghambat yang ternyata malah berasal dari orang tua, lho, Ma. Faktor pertama adalah ego. Menurut Lala, “Ego ini mudah sekali memicu emosi orang tua, soalnya orang tua sering kali merasa benar dan harus didengarkan.”


Bagi Lala, orang tua juga harus memahami bahwa anak, sama dengan orang tua, pun memiliki ego. Bedanya, anak masih belum dapat mengendalikan egonya dengan bijak dan matang. “Pada dasarnya, anak juga memiliki ego untuk melawan ego orang tuanya. Mereka akan mempertahankan apa yang sebenarnya mereka inginkan, seperti perasaan tidak ingin diganggu atau diawasi secara berlebihan,” imbuh Lala.


Faktor kedua adalah penentuan waktu untuk memulai komunikasi. Merasa sudah penat bekerja seharian, kesempatan untuk sedikit santai setelah off hour membuat orang tua cenderung tergesa-gesa. Berniat ngobrol ringan dengan anak, orang tua malah terkesan menjadi investigator karena langsung menanyakan beberapa pertanyaan sekaligus. 


“Karena merasa itu waktu yang tepat, akhirnya orang tua langsung to the point bertanya ini itu. Padahal, bisa saja sang anak sedang tidak ingin ditanyai. Kalau sudah ada ketidakcocokan seperti ini, akhirnya timbullah konflik," ungkap Lala.


2. Masuk lewat aktivitas yang mereka sukai

Membangun komunikasi yang baik dengan anak tentu dapat membantu orang tua untuk memperbaharui informasi mengenai kondisi sang buah hati. Namun, orang tua tak jarang menemui kesulitan saat ingin membuka obrolan.


“Usia yang berbeda juga memiliki tantangan yang berbeda pula. Belum lagi ditambah dengan sifat atau karakter mereka, pendekatannya jadi lebih ekstra karena berbagai komplikasi yang luar biasa,” jelas Lala menceritakan pengalamannya berkomunikasi dengan kedua anaknya.

Lala memberikan contoh, “Anak saya yang pertama, misalnya, dia baru saja memasuki usia pre-teen, usia saat ia mulai punya dunianya sendiri. Awalnya, ia sangat mudah diajak bicara, tapi sekarang mulai agak menutup diri dari orang tua. Lalu, meski baru menginjak usia 4 tahun, anak kedua saya juga kadang ada mood-nya sendiri, sehingga ia sulit diajak ngobrol,” imbuhnya.


Untuk itu, orang tua sebaiknya memulai obrolan dengan membahas sesuatu yang anak sukai atau bahkan ikut melakukan aktivitas tersebut. “Kalau anak pertama, dia suka sekali musik, jadi kita mulai dengan mendengarkan lagu yang dia sukai saat di mobil. Awalnya, bahaslah musiknya, penyanyinya. Nanti, kalau dia sudah enjoy, baru kita ajak ngobrol yang lain,” ungkap Lala.


“Untuk anak balita, seperti anak kedua saya, suka sekali menonton karakter Minion. Makanya, saya coba ikuti suara Minion, nanti dia jadi tertarik dan mendekat sendiri. Momen itu saya manfaatkan untuk berbincang,” imbuhnya. 


3. Perhatikan mood anak dan bangun empati

Sebelum mengajak berbicara terlalu jauh, ada baiknya bila orang tua mengetahui kondisi mood anak. Coba perhatikan raut wajah atau body language-nya. Menurut Lala, “Saat mood mereka tidak memungkinkan untuk diajak ngobrol, kita beri space dulu, kita coba cari waktu lain.” 

Ada pula cara kedua, “Selain beri space, kita juga bisa membangun suasana yang membuat mood anak naik, misalnya dengan mengajak mereka makan, menawari kegiatan yang mereka inginkan, atau hal-hal menarik lainnya.”


Bila waktu sudah tepat dan mood anak sudah baik, hal selanjutnya yang perlu dibangun adalah empati antara anak dan orang tua. “Kita sebagai orang tua, harus rajin mengobservasi kecenderungan anak agar dapat lebih memahami mereka—karakternya, preferensinya. Jadi kita mengerti, apakah mereka tipe yang to the point atau harus dipancing dengan hal-hal lain terlebih dahulu,” jelasnya, mengakhiri sesi malam itu.


Rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 masih akan berlangsung hingga 3 Oktober 2020. Mengusung tema "Nurturing the Future-Ready Family", topik-topik parenting yang menarik akan dihadirkan setiap harinya dan dibahas langsung oleh para pakar. Penonton dapat menyaksikan rangkaian acara Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 secara gratis melalui platform Zoom, YouTube, dan website popac.popmama.com.

bottom of page